"Komunitas Penggiat Sejarah Perjuangan Bangsa dan Sahabat Para pejuang Indonesia"

" Selamat Datang di Website Komunitas Cinta Pejuang Indonesia (KCPI)"

Tampilkan postingan dengan label Tokoh & Pelaku Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh & Pelaku Sejarah. Tampilkan semua postingan

inilah dia "Sin Nio" , Prajurit Pejuang TNI yang “Dibuang” Karena keturunan Tionghoa

Kisah "Sin Nio" , Prajurit Pejuang TNI yang “Dibuang” Karena keturunan Tionghoa 

Perempuan Tionghoa ini adalah pejuang kemerdekaan Indonesia asal Wonosobo, Jawa Tengah. Beliau ikut bertempur melawan Belanda dan bergabung dalam Kompi 1 Batalion 4 Resimen 18, di bawah komando Sukarno (terakhir berpangkat Brigjend dan pernah menjadi Dubes RI untuk Aljazair).

Sin Nio adalah satu-satunya prajurit perempuan dalam kompi tersebut.
Semasa berjuang, Sin Nio pd awalnya hnya bermodalkan senjata sederhana berupa golok, bambu runcing & tombak Sampai akhirnya suatu ketika gadis pejuang tsb berhasil merampas senapan jenis LE dri pihak Belanda.

Dari bagian tempur, kemudian Sin Nio dipindahkan kebagian perawat atau palang merah, karena ada kekosongan juru rawat, padahal banyak sekali pejuang yang terluka dan butuh perawatan medis. Sin Nio berhasil melaksanakan semua tugas yang dipercayakan kepadanya dengan baik.

Setelah kemerdekaan dan kondisi negara mulai aman, srikandi ini memutuskan menikah dan akhirnya memiliki enam anak dari dua orang suami, yang keduanya berakhir dengan perceraian. 
Sebagai janda dengan enam anak, tentu hidup Sin Nio sangatlah berat

dan hal ini membulatkan tekad keberangkatan dirinya dari Wonosobo ke Jakarta. Keputusan ini juga diakibatkan oleh karena pejuang ini tak mendapatkan pensiun, yang semestinya adalah haknya sebagai pejuang kemerdekaan. Keberangkatan nya ke Jakarta untuk mengurus hak pensiunnya.

Saya menduga ini karena Sin Nio berasal dari etnis Tionghoa, sehingga pensiunnya dipersulit
1973, pejuang ini sampai di Jakarta dan menumpang tinggal selama sembilan bulan di Markas Besar Legiun Veteran Republik Indonesia di Jalan Gajah Mada.

Kemudian setelah itu beliau terpaksa hidup menggelandang di ibukota, satu pilihan menyedihkan bagi seorang pejuang bangsa, bayangkan perempuan pejuang berusia sekitar 60 tahun harus hidup menggelandang di kerasnya ibukota. Kehujanan kepanasan tanpa tempat tinggal yang jelas.

Perjuangan panjang akhirnya pada tanggal 29 Juli 1976, Sin Nio berhasil mendapatkan pengakuan sebagai pejuang yang turut aktif mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Surat Keputusan pengakuan The Sin Nio dikeluarkan oleh Mahkamah Militer Yogyakarta.

SK ini ditandatangani oleh Kapten CKH Soetikno SH dan Lettu CKH Drs.Soehardjo, juga sebagai saksi mata ditandatangani ooeh Mayor TNI-AD Kadri Sriyono (Kastaf Kodim 0734 Diponegoro dan Dr R.Brotoseno (dokter militer pada Resimen 18 Divisi III Diponegoro.

Tragisnya, SK tersebut tidak diiringi dengan hak pensiunnya. Sehingga Sin Nio tetap hidup sebagai gelandangan. Beliau hidup menggelandang di seputaran pintu air tak jauh dari mesjid Istiqlal Jakarta.

Uang pensiun sebesar Rp 28.000,- per bulan akhirnya dapat diperoleh beberapa tahun kemudian. Tapi uang sebesar itu tak mampu mencukupi kebutuhan lainnya, sehingga Sin Nio hanya bisa tinggal di gubuk tanah pinggiran rel kereta api milik PJKA.

The Sin Nio bersikeras tak mau plg lagi ke Wonosobo, bahkan dia tak prnh lupa utk tetap mengirimkan uang kepada anak cucunya di kampung halaman. “Saya tak mau merepotkan anak cucu saya, biarlah saya hidup sendiri di Jakarta, meski dlm tempat seperri ini!” . Jiwa pejuang sejati!

Pernah ada janji dari Menteri Perumahan, Cosmas Batubara, bahwa Sin Nio akan diberikan rumah di Perumnas. Tapi janji tinggallah janji.Bangsa besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya.

The Sin Nio telah mempertaruhkan nyawanya diujung peluru demi tegaknya kemerdekaan Indonesia, tapi apa balasan yang didapatnya?
Tak diketahui, bagaimana kisah akhir kehidupan pejuang bangsa ini, apakah kemudian beliau menghilang begitu saja

atau dia menghindar dari kita bangsa Indonesia, dan berucap :

“Saya tidak mau merepotkan bangsa saya, biarlah saya hidup dan mati dalam kesendirian, karena hanya Tuhan yang mampu memeluk dan menghargai gelandangan seperti saya!”



 

Share:

DAAN MOGOT PAHLAWAN YANG GUGUR DI USIA MUDA


DAAN MOGOT Tewas diusia 17 tahun

DAAN MOGOT, atau dengan nama baptis Elias Daniel Mogot adalah anak ke lima dari tujuh bersaudara.

Lelaki perwira remaja nan rupawan ini lahir di Manado, 28 Desember 1928.

Di usia 14 tahun Daan Mogot sudah bergabung dengan tentara PETA (Pembela Tanah Air) bentukan Jepang. 

Daan Mogot juga orang yang menginisiasi perlunya didirikan sekolah militer. Bersama Kemal Idris, temannya saat masih di Tabanan, Bali, ia mendirikan Akademi Militer Tangerang,  pada tgl 18 November 1945. Daan Mogot sekaligus orang yang  pertama kali menjadi Direktur Akademi Militer Tangerang, padahal saat itu usianya belum genap 17 tahun dengan pangkat Mayor.
 
Daan Mogot gugur saat Peristiwa Lengkong, Tangerang. Bersama 70 Taruna Militer Akademi Tangerang lainnya,. 

Saat itu Daan Mogot bertugas melucuti senjata pasukan Jepang yang dipimpin oleh Kapten Abe. Di saat penyerahan tentara Jepang berlangsung damai, tiba-tiba meletus tembakan yang membuat kedua belah pihak saling kontak senjata.

Dalam pertempuran, Mayor Daan Mogot terkena peluru pada paha kanan dan dada. Daan Mogot yang sudah tertembak musuh, masih sempat memberikan perlawanan meski pada akhirnya tubuhnya di hujani peluru serdadu Jepang.

Daan Mogot tutup usia pada tanggal 25 Januari 1946. Hanya sempat sebulan ia merasakan hidup di usia 17 tahun. 

Ya, Daan Mogot memang mati di usia yang sangat belia. Usia 17 tahun. Bagi anak muda lainnya, usia 17 tahun akan diperingati sebagai masa yang indah. Namun bagi perempuan cantik bernama Hadjari Singgih, kekasih Mayor Daan Mogot, adalah sebuah pengorbanan yang sangat berarti bagi negeri ini. Kado yang terindah darinya adalah dengan memotong rambutnya yang panjang mencapai pinggang dan mengubur rambut itu bersama jenazah Daan Mogot. 

Untuk menghormati jasa-jasa Mayor Daan Mogot, namanya diabadikan menjadi nama jalan yang menghubungkan antara Tangerang hingga ke Grogol,  Jakarta Barat.
Share:

Vence Kandou, KKO Pengangkut Jenazah Para Jenderal dari Sumur Lubang Buaya 1965.


LEBIH dari 50 tahun, E.J. Vence Kandou tidak menceritakan identitasnya sebagai saksi sejarah. Dia ternyata salah satu anggota dari 12 orang pasukan yang ditugaskan untuk mengangkut para jenazah jenderal yang dihabisi PKI di sumur Lubang Buaya, Jakarta. Kini, setelah 52 tahun peristiwa itu berlangsung, purnawirawan KKO yang kini tinggal di Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar, Banyuwangi itu mulai membuka diri.
 
Langkah tegap khas militer masih terlihat jelas dari gesture E.J. Vence Kandou (sekarang 83 tahun), ketika wartawan Jawa Pos Radar Banyuwangi mengunjungi kediamannya tak jauh dari lampu merah Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar, Banyuwangi. Meski kini berusia 77 tahun, pria itu masih tampak cukup bugar. Vence yang sehari sebelumnya baru tiba dari Surabaya untuk mengunjungi salah satu rekan seperjuangan, langsung paham dengan kehadiran wartawan. Kami pun dipersilakan duduk di ruang tamu.

Tak banyak basa-basi. Vence yang merupakan salah satu dari 12 anggota pasukan katak pengangkut jenazah para jenderal korban Gestapu dari sumur Lubang Buaya itu, langsung mengambil beberapa dokumen pribadi.
 
Setelah membuka sebuah tas bergambar Monumen Kesaktian Pancasila, Vence langsung menggelar beberapa foto lama. Foto-foto hitam-putih itu sudah dilaminating. Di dalam foto itu, kakek lima cucu tersebut menunjukkan satu per satu nama anggota pasukan katak yang berdiri berjajar di depan sebuah lubang menganga. Kemudian, lubang itu dikenal sebagai sumur Lubang Buaya. ”Ini Serma KKO Saparimin, ini Prajurit Komando Satu Subekti, kalau yang ini Kopral RPKAD Anang. Yang dua ini teman saya yang masih hidup, Kopral KKO Sugimin dan Kopral KKO Samuri,” kata Vence sambil memegang foto-foto itu.
 
Sambil terus memegangi foto-foto tersebut, Vence memulai ceritanya sebelum ditugasi untuk mengangkut jenazah para jenderal Angkatan Darat yang dibunuh oleh PKI dalam tragedi 1965 itu.
 
Kala itu, sekitar akhir September 1965, Vence mengaku tengah mendapat perintah dari atasannya untuk melakukan pemeriksaan di sepanjang Pantai Ancol, Jakarta. Vence yang merupakan anggota pertama dari Satuan Intai Amfibi Korps Komando Angkatan Laut (KKO) atau yang kini disebut Marinir, setiap hari melakukan penyelaman di pantai tersebut.
 
Dia ditugasi untuk memastikan Pantai Ancol adalah tempat yang layak untuk pendaratan kapal-kapal perang dan tank amfibi milik angkatan laut. ”Waktu itu Presiden Soekarno ingin melakukan show of force militer angkatan laut. Jadi, kita diminta memastikan kawasan itu aman. Dulu, Ancol lokasinya rawa-rawa! Jangan dibayangkan seperti sekarang,” kata Vence.
 
Tiba-tiba, di tengah malam tanggal 30 September sekitar pukul 23.00, Vence mendapat laporan dari salah satu rekannya jika ada banyak Angkatan Darat yang menggunakan seragam berseliweran. Mereka pun heran dengan situasi itu, karena kala itu jika pasukan menggunakan seragam lengkap maka sedang ada operasi militer atau peristiwa penting. ”Saya sempat bertanya-tanya, apa yang terjadi sampai tentara Angkatan Darat berseragam dan bersenjata,” ujarnya.
 
Namun, teka-teki itu ternyata baru terjawab keesokan paginya. Sekitar pukul 06.00 pagi melalui siaran RRI, Vence mendengar adanya sebuah gerakan yang disebut Gestapu. Dalam siaran itu disebutkan, bagi mereka yang mau bergabung dalam gerakan itu terutama tentara, akan dinaikkan pangkatnya dua tingkat. Sedangkan bagi yang mau menjadi simpatisan, akan dinaikkan pangkatnya satu tingkat.
 
Meski menggiurkan, namun tawaran itu membuat Vence dan kawan-kawannya semakin bingung. Karena mereka berpikir pasti ada sesuatu yang besar sedang terjadi. Dua hari kemudian, sekitar tanggal 3 Oktober 1965, tiba-tiba turun perintah dari Letnan Satu KKO Mispan yang meminta bantuan Vence untuk mengumpulkan rekan-rekannya.
 
Saat ditanya untuk apa, atasan Vence saat itu hanya mengatakan, mereka diminta mengambil jenazah para jenderal dari Lubang Buaya. ”Lettu Mispan dimintai tolong Kapten Suhendar dari Kostrad. Katanya perintah langsung dari Pak Harto untuk mengambil jenazah jenderal dari Lubang Buaya, jadi dimintai menyiapkan penyelam. Saya juga bingung waktu itu, akhirnya siapa pun yang saya temui saya ajak untuk ke Lubang Buaya,” terangnya.
 
Vence yang kebetulan adalah pelatih di Sekolah Intai Amfibi KKO, dengan cepat kemudian menemukan beberapa anggota. Termasuk pasukan KKO yang pernah menjadi muridnya dan pernah dilatihnya. Salah satunya Kopral Sugimin yang masih hidup hingga kini. ”Saya ketemu Sugimin, langsung saya bilang, ‘Ayo, melok neng Lubang Buaya’ (ayo, ikut saya ke Lubang Buaya). Dia bertanya juga, ‘ate laopo?’ (mau apa?) Saya bilang saja tidak tahu. Ada perintah dari atasan. Setelah itu dia juga membantu saya mencari anggota,” ceritanya.
 
Setelah itu, terkumpu 11 orang anggota KKO dan satu orang RPKAD yang langsung diajak Vence untuk melapor ke Lettu Mispan. Mereka langsung dipertemukan dengan Kapten Suhendar. Keesokan harinya, sekitar pukul 04.00 pagi tanggal 4 Oktober 1965, sebanyak 12 penyelam bersama Kapten Suhendar langsung berangkat ke Bandara Halim Perdana Kusuma yang lokasinya dikabarkan berdekatan dengan Lubang Buaya.
 
Di sana, Vence bersama rombongannya langsung berusaha mencari lokasi Lubang Buaya. Namun, bukannya diarahkan, semua anggota TNI AU yang bertugas di sekitar bandara tidak satu pun yang mengaku mengetahui lokasi Lubang Buaya. Semuanya beralasan tidak tahu dan tidak pernah mendengar lokasi yang disebutkan Vence dan kawan-kawan.
 
Mereka pun sempat heran lantaran lokasi itu kabarnya adalah area yang cukup diketahui, karena sering menjadi lokasi latihan Pemuda Rakyat dan Gerwani. ”Itu konyol sebenarnya. Mana mungkin mereka tidak tahu. Jika ada kabar bahwa TNI AU menjadi salah satu instansi yang disusupi PKI saat itu, mungkin memang benar. Mereka memang tidak menghalangi kita, tapi tidak memberi tahu,” imbuhnya.
 
Baru setelah bertanya ke sana ke mari, Vence bersama pasukannya bertemu dengan dua orang petugas Polisi Angkatan Udara (PAU) yang sedang berpatroli. Mereka pun lantas menunjukkan di mana lokasi Lubang Buaya. Selama perjalanan itu, Vence sempat menemui beberapa warga. Mereka juga mengakui jika lokasi Lubang Buaya itu sering digunakan untuk berlatih Pemuda Rakyat dan Gerwani.
 
Bahkan, saking banyaknya anggota sayap kiri yang berlatih di sana, ketika ditanya warga tersebut mengatakan jumlahnya sampai jutaan. ”Mungkin kalau kita tidak bertemu dengan dua anggota PAU itu, kita tidak akan sampai di Lubang Buaya, karena semuanya tutup mulut. Lokasinya memang tersembunyi dikelilingi perkebunan karet. Tapi, dari jarak 100 meter saja kita sudah bisa mencium bau anyir dan tajam,” tegas Vence.
 
Begitu tiba di dekat area Lubang Buaya, Vence tak lantas bisa masuk ke dalam lokasi. Karena rupanya sudah ada puluhan baret merah (RPKAD/Kopassus) yang berjaga-jaga di sana.  ”Saya maklum, karena mungkin mereka juga menerka-nerka, mana teman dan mana lawan. Saya sempat marah saat itu karena sudah lelah dari pagi menunggu, mau menolong kok dipersulit. Baru sekitar pukul 10.00, Pak Soeharto datang. Lalu Kapten Suhendar melapor dan kita baru bisa masuk ke dalam,” jelas pria berdarah Manado itu.
 
Setelah berada di dekat Lubang Buaya, kedua belas pasukan itu pun langsung menyiapkan diri untuk menyelam. Namun, setelah melihat lokasi penyelaman, mereka mulai saling pandang. Bahkan saat itu salah satu anggota KKO yaitu Serma Saparimin yang pernah sekolah menyelam di Rusia tidak berani masuk ke dalam Lubang Buaya. ”Kata Serma Saparimin berisiko. Takut ada granat atau ranjau. Karena di kalangan militer memang ada jebakan seperti itu. Tapi saya bujuk dia supaya mau, saya bilang sudah serahkan saja sama Yang di Atas, dan akhirnya dia mau,” ujar Vence sambil tersenyum.
 
Tak lama setelah menyelam, satu per satu jenazah mulai bisa diangkat. Vence menceritakan, kondisi di dalam lubang sangat gelap. Padahal saat itu kondisi siang hari. Ditambah tim penyelam sudah menyediakan lampu penerang 1.000 watt yang diletakkan di dalam lubang. Agar tak menyeruak baunya, berbungkus-bungkus karbol juga sempat dimasukkan ke dalam lubang. Namun, hal itu menurutnya tidak banyak membantu.
 Jenazah yang pertama kali berhasil diangkat adalah Lettu CZI Pierre Tendean. Vence menggambarkan, kondisi Pierre Tendean saat itu dapat dibilang cukup bersih karena hanya mendapat luka tembak di bagian dada.
 
Lalu berturut-turut jenazah jenderal lainnya mulai ditemukan. Yang paling diingat salah satunya menurut Vence adalah jenazah Jenderal Ahmad Yani dan Brigjen Sutoyo yang diangkat secara bersamaan. ”Kalau saya kan kurang begitu kenal dengan para jenderal itu, yang tahu para anggota Angkatan Darat. Saya ingat sekali waktu Jenderal A. Yani diangkat, semuanya langsung bereaksi. Kemudian saya lihat ada luka sayatan melingkar di lehernya, sampai nyaris putus. Begitu diangkat kepalanya langsung berputar ke samping. Saya ingat sekali itu,” tegas Vence sambil terus berdecak.
 
Dari kondisi jenazah yang ditemukan, Vence pun berkesimpulan mengenai kondisi para korban sebelum dibunuh. Jenderal A. Yani, kata Vence, diangkat dalam kondisi masih menggunakan piyama. Kemudian Jenderal Suprapto masih mengenakan sarung. Hanya D.I. Panjaitan yang meninggal dengan menggunakan seragam TNI yang lengkap. ”Kondisinya mengenaskan. Semuanya dengan posisi kepala di bawah. Saya langsung berpikir, bagaimana bisa ada orang sekejam itu. Enam jenderal dalam semalam! Di perang dunia saja, tidak ada yang seperti ini,” tutur Vence.
 
Dia juga menceritakan, selain pasukan katak yang dibawanya, sebelumnya juga sempat ada beberapa orang yang diperintahkan untuk masuk ke sumur Lubang Buaya. Tetapi mereka hanya dibekali masker dan tidak ada satu pun yang kuat masuk Lubang Buaya. ”Sebelumnya ada orang-orang yang disuruh masuk ke sana. Sepertinya para tahanan, tapi tidak ada yang mampu. Baru setelah kita yang masuk, semua jenazah bisa diangkat. Semuanya langsung dibawa ke dalam peti dan dibawa ke RSPAD,” terangnya.
 
Setelah semua jenazah terangkat, Letjen Soeharto kemudian mengumpulkan para KKO yang telah membantu pengangkatan jenazah. Soeharto berterima kasih kepada 12 anggota pasukan katak itu karena telah membantu penemuan jenazah para jenderal. ”Terima kasih telah membantu mengangkat jenazah para jenderal, sampaikan ucapan terima kasih saya kepada Jenderal-mu (Jenderal KKO, Red),” jelas suami Theresia Judih Mool itu menirukan ucapan Jenderal Suharto.
 
Pasca peristiwa pengangkatan jenazah para jenderal itu, Vence pun kembali ke aktivitas semula. Atas jasanya, Vence pernah menjadi ajudan KSAL R.E. Martadinata. Namun, dampak dari Gestapu menurutnya masih cukup terasa. Karena tersiar kabar jika akan ada Gestapu jilid 2 yang menyasar jenderal-jenderal yang tersisa seperti Soeharto. ”Waktu itu, KSAL sampai harus pindah rumah sehari sekali. Kita masih khawatir ada gerakan susulan. Ada isu waktu itu akan ada Gestapu tahap 2, mereka mengancam jenderal-jenderal yang tidak pro-PKI. Bahkan, ada kabar jika mayat para jenderal dan tentara yang tidak pro-PKI akan digantung di Jalan Keramat, apa tidak seram?” kata pria kelahiran Kebumen, Jawa Tengah itu.
 
Ketika kondisi semakin kondusif, Vence pun kembali ke aktivitasnya sebagai anggota KKO. Dia pun tak pernah menceritakan apa pun tentang kejadian yang pernah dialaminya kepada orang lain. Karena kondisi saat itu tengah diupayakan untuk kondusif. Pernah dirinya dipanggil ke Istana untuk memperoleh Bintang Kartika Eka Paksi dari TNI Angkatan Darat. Setelah itu, kondisi kembali normal hingga sekitar tahun 2015, Presiden Jokowi memanggil dirinya dan kedua temannya yaitu Kopral Sugimin dan Kopral Samuri sebagai saksi sejarah pengangkutan jenazah jenderal di Lubang Buaya. “Dulu kita sering datang ikut upacara di Lubang Buaya, tapi kemudian tidak pernah lagi. Baru setelah Presiden Jokowi, saya dipanggil lagi. Tahun ini saya juga ke sana lagi,” ujar pria yang pernah ikut menumpas pemberontakan DI-TII itu.
 
Vence pun sempat memberikan pandangannya terkait kondisi saat ini yang banyak terjadi perdebatan terkait PKI. Dia mengatakan, kondisi saat itu memang benar-benar kacau. Masa-masa itu merupakan salah satu sejarah yang cukup kelam bagi masyarakat Indonesia. Vence juga sangat setuju jika pemutaran film G 30 S/PKI kembali diputar. Karena menurutnya, sekelam apa pun sejarah, tetap harus diungkapkan. ”Menurut saya, sejarah baik atau buruk tetap harus disampaikan. Meskipun itu bisa dibilang sejarah yang jahat. Supaya generasi kita bisa belajar. Saya mendukung kalau film itu diputar. Saya juga baru kali ini bisa menceritakan pengalaman saya kepada media dan ke mana-mana. Mumpung saya masih hidup, saya bisa menceritakan, bagaimana sebenarnya kisah Gestapu itu terjadi,” pungkasnya.(bay/c1)
--------------------------------------------------
R.I.P Vence Kandou 
Pelaku Sejarah/Pahlawan KKO baru saja meninggal dunia karena sakit setelah mengalami sakit beberapa waktu.
--------------------------------------------------

Share:

PAK HARTO FRUSTASI KARENA KARIR MILITERNYA


Di dunia militer, Soeharto mengawali kariernya dengan menjadi tentara kerajaan Belanda (KNIL) berpangkat kopral pada 1940. Ketika Jepang masuk pada 1942, KNIL pun otomatis bubar dan Soeharto mendaftar di kepolisian. "Dia bertugas sebagai reserse dan hanya bertahan selama dua bulan," tutur Probosutedjo, adik tiri Soeharto, dalam buku 'Dari Pak Harto untuk Indonesia'.

Di era pendudukan Jepang, Soeharto, yang lahir di Desa Kemusuk, Yogyakarta, pada 8 Juni 1921, kembali aktif di dunia militer. Ia menjadi pasukan Peta (Pembela Tanah Air) dan bertugas di Wates, Kulonprogo. Di pasukan ini, anak pasangan Sukirah dan Kertosudiro itu sempat mengikuti pendidikan di Bogor. Pangkatnya pun naik dari shudancho (komandan peleton) menjadi chudancho (komandan kompi).

Ketika Jepang menyerah kepada sekutu dan Indonesia merdeka, terjadi euforia di lingkungan TKR (Tentara Keamanan Rakyat), yang merupakan cikal-bakal Peta. Masing-masing kelompok menciptakan dan menentukan jenjang kepangkatan sendiri, seperti digambarkan dalam film 'Naga Bonar', yang dibintangi Deddy Mizwar.

Ketika pemerintah pusat menertibkan keanggotaan tentara, termasuk hierarki kepangkatannya, Soeharto merasa pangkatnya mentok. Kondisi ini sempat membuatnya frustrasi sehingga ingin mundur dari dinas militer. "Pak Harto (pernah) berniat jadi sopir, tapi dicegah oleh Ibu Tien, yang mengingatkan janji Pak Harto ketika melamarnya adalah bukan sebagai sopir, tapi tentara," tutur Probo dalam buku terbitan Antara Pustaka Utama, 2008, itu.

Karena ditentang sang istri, Soeharto mengurungkan niatnya itu. Di militer, dia kemudian mendapat tugas di bagian penerangan di Kota Baru, Yogyakarta. Di bawah Komandan Divisi Susalit, putra RA Kartini, karier Soeharto cukup moncer sehingga mendapat promosi sebagai Komandan Batalion X.

"Pada saat itu, Pak Harto mendapat rumah dinas di Jalan Merbabu No 2A, Yogyakarta. Juga mendapat mobil dinas," ucap Probo.

Share:

JENDRAL BESAR TNI (Purn) ABDOEL HARIS NASUTION


Jenderal Besar TNI Purn. Abdoel Haris Nasoetion, lahir di Huta Pungkut, Kota Nopan, Sumatera Utara, 3 Desember 1918 dan meninggal di Jakarta, 6 September 2000 pada umur 81 tahun. Ia dikenal sebagai tokoh peletak dasar perang gerilya dalam perang melawan penjajahan Belanda yang tertuang dalam buku yang ditulisnya berjudul "Strategy of Guerrilla Warfare". Buku yang kini telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa asing dan menjadi buku wajib akademi militer di sejumlah negara, termasuk sekolah elite bagi militer dunia, West Point Amerika Serikat.

*Pendidikan
- HIS, Bukit Tinggi (1932).
- HIK, Bukit Tinggi (1935).
- AMS Bagian B, Jakarta (1938).
- Akademi Militer, Bandung (1942).
- Doktor HC dari Universitas Islam Sumatera Utara, Medan (Ilmu Ketatanegaraan, 1962).
- Universitas Pajajaran, Bandung (Ilmu Politik, 1962).
- Universitas Andalas, Padang (Ilmu Negara 1962).
- Universitas Mindanao, Filipina (1971).

* Karir
- Guru di Bengkulu (1938).
- Guru di Palembang (1939-1940).
- Pegawai Kotapraja Bandung (1943).
- Komandan Divisi III TKR/TRI, Bandung (1945-1946).
- Komandan Divisi I Siliwangi, Bandung (1946-1948).
- Wakil Panglima Besar/Kepala Staf Operasi MBAP, Yogyakarta (1948).
- Panglima Komando Jawa (1948-1949).
- KASAD (1949-1952 dan 1955-1962).
- Ketua Gabungan Kepala Staf (1955-1959).
- Menteri Keamanan Nasional/Menko Polkam (1959-1962).
- Menteri Koordinator Pertahanan Keamanan/Kepala Staf Angkatan Bersenjata RI (1962-1965).
- Ketua MPRS (1966-1972).

* Penghargaan
- Bintang Republik Indonesia Klas III dan II.
- Bintang Maha Putera Klas II.
- Bintang Sakti.
- Bintang Darma.
- Bintang Gerilya.
- Bintang Sewindu.
- Satyalencana Kesetiaan.
- Satyalencana Jasa-Darma Angkatan Laut.
- Satyalencana Aksi Militer I.
- Satyalencana Aksi Militer II.
- Satyalencana Gerakan Operasi Militer I.
- Satyalencana Gerakan Operasi Militer II.
- Satyalencana Gerakan Operasi Militer III.
- Satyalencana Gerakan Operasi Militer IV.
- Satyalencana Kemerdekaan.
- Satyalencana Satya Darma.
- Satyalencana Dharma Pembebasan Irian Barat.
- Satyalencana Dharma Dwikora.
- Satyalencana Penegak (Operasi Penumpasan G.30.S/PKI).
- Bintang Gajah Putih dari Kerajaan Muangthai.
- Bintang Bendera Yugoslavia Klas I.
- Bintang Republik tertinggi dari Republik Persatuan Arab (RPA) (Grand Gordon of the Order of the U.A.R).
- Bintang Militer Klas I Yugolasvia. 
- Bintang Kehormatan dari Presiden Philipina (1963).
- Bintang Jasa dari Republik Federasi Jerman (1963).
- Bintang Datu Sikatema dari Philipina (1967).
- Bintang Tertinggi Trimurti dari Ethiopia (1968).
- Grootkruis Oranye Nassau dari Negeri Belanda.
- Lencana kehormatan dari Korps Kapal Selam Angkatan Laut Republik Indonesia.
- Lencana kehormatan dari Korps Kapal Selam Amerika Serikat.
- Lencana kehormatan dari Korps Kapal Selam Uni Soviet.
- Lencana kehormatan dari Sekolah Artileri dan Missile di Amerika.
- Lencana kehormatan dari Frunze Akademi Uni Soviet.
- Lencana kehormatan dari Divisi I Jerman 
- Lencana kehormatan dari Korps Berlapis Baja Jerman.
- Lencana kehormatan dari Akademi Angkatan Udara Republik Persatuan Arab (Mesir-Suriah)
- Lencana kehormatan dari Korps Kavaleri TNI-Angkatan Darat.
 - Pangkat Jenderal Besar Bintang Lima.

Foto : Jendral TNI Abdoel Haris Nasoetion, MPRS Tahun 1967 Di Istora Senayan Jakarta.

(Foto Warna Asli LIFE)
Share:

R.A. KARTINI BERSAUDARA

PENDIDIKAN INDEPENDEN R.A. KARTINI BERSAUDARA

Share:

Hoegeng – Kisah Polisi Paling Jujur Di Indonesia


Hoegeng Imam Santoso. Ia merupakan salah satu sosok terkenal di Indonesia. Tokoh Indonesia yang satu ini terkenal sebagai polisi paling jujur dan sederhana ditengah ketidakpercayaan masyarakat kepada institusi kepolisian.

Nama lengkapnya adalah Hoegeng Imam Santoso merupakan putra sulung dari pasangan Soekario Kario Hatmodjo dan Oemi Kalsoem. Beliau lahir pada 14 Oktober 1921 di Kota Pekalongan. Meskipun berasal dari keluarga Priyayi (ayahnya merupakan pegawai atau amtenaar Pemerintah Hindia Belanda).

Namun perilaku Hoegeng kecil sama sekali tidak menunjukkan kesombongan, bahkan ia banyak bergaul dengan anak-anak dari lingkungan biasa. Hoegeng sama sekali tidak pernah mempermasalahkan ningrat atau tidaknya seseorang dalam bergaul.

A. Masa Kecil

Masa kecil Hoegeng diwarnai dengan kehidupan yang sederhana karena ayah Hoegeng tidak memiliki rumah dan tanah pribadi, karena itu ia seringkali berpindah-pindah rumah kontrakan.

Hoegeng kecil juga dididik dalam keluarga yang menekankan kedisiplinan dalam segala hal. Hoegeng mengenyam pendidikan dasarnya pada usia enam tahun pada tahun 1927 di Hollandsch Inlandsche School (HIS).

Tamat dari HIS pada tahun 1934, ia memasuki Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), yaitu pendidikan menengah setingkat SMP di Pekalongan.

Pada tahun 1937 setelah lulus MULO, ia melanjutkan pendidikan ke Algemeene Middlebare School (AMS) pendidikan setingkat SMA di Yogyakarta. Pada saat bersekolah di AMS, bakatnya dalam bidang bahasa sangatlah menonjol.

Ia juga dikenal sebagai pribadi yang suka bicara dan bergaul dengan siapa saja tanpa sungkan-sungkan dengan tidak mempedulikan ras atau bangsa apa.

Kemudian pada tahun 1940, saat usianya menginjak 19 tahun, ia memilih melanjutkan kuliahnya di Recht Hoge School (RHS) di Batavia.

B. Menjadi Seorang Polisi

Tahun 1950, Hoegeng mengikuti Kursus Orientasi di Provost Marshal General School pada Military Police School Port Gordon, George, Amerika Serikat. Dari situ, dia menjabat Kepala DPKN Kantor Polisi Jawa Timur di Surabaya (1952).

Lalu menjadi Kepala Bagian Reserse Kriminil Kantor Polisi Sumatera Utara (1956) di Medan. Tahun 1959, mengikuti pendidikan Pendidikan Brimob dan menjadi seorang Staf Direktorat II Mabes Kepolisian Negara (1960), Kepala Jawatan Imigrasi (1960), Menteri luran Negara (1965), dan menjadi Menteri Sekretaris Kabinet Inti tahun 1966.

Setelah Hoegeng pindah ke markas Kepolisian Negara kariernya terus menanjak. Di situ, dia menjabat Deputi Operasi Pangak (1966), dan Deputi Men/Pangak Urusan Operasi juga masih dalam 1966.

C. Menjadi Kapolri

Terakhir, pada 5 Mei 1968, Hoegeng diangkat menjadi Kepala Kepolisian Negara (tahun 1969, namanya kemudian berubah menjadi Kapolri), menggantikan Soetjipto Joedodihardjo.

Banyak hal terjadi selama kepemimpinan Kapolri Hoegeng Iman Santoso. Pertama, Hoegeng melakukan pembenahan beberapa bidang yang menyangkut Struktur Organisasi di tingkat Mabes Polri. Hasilnya, struktur yang baru lebih terkesan lebih dinamis dan komunikatif.

Kedua, adalah soal perubahan nama pimpinan polisi dan markas besarnya. Berdasarkan Keppres No.52 Tahun 1969, sebutan Panglima Angkatan Kepolisian RI (Pangak) diubah menjadi Kepala Kepolisian RI (Kapolri). Dengan begitu, nama Markas Besar Angkatan Kepolisian pun berubah menjadi Markas Besar Kepolisian (Mabak).

Perubahan itu membawa sejumlah konsekuensi untuk beberapa instansi yang berada di Kapolri. Misalnya, sebutan Panglima Daerah Kepolisian (Pangdak) menjadi Kepala Daerah Kepolisian RI atau Kadapol.

Demikian pula sebutan Seskoak menjadi Seskopol. Di bawah kepemimpinan Hoegeng peran serta Polri dalam peta organisasi Polisi Internasional, International Criminal Police Organization (ICPO), semakin aktif. Hal itu ditandai dengan dibukanya Sekretariat National Central Bureau (NCB) Interpol di Jakarta.

D. Berani Membongkar Kasus Besar

Selama ia menjabat sebagai kapolri ada dua kasus menggemparkan masyarakat. Pertama kasus Sum Kuning, yaitu pemerkosaan terhadap penjual telur, Sumarijem, yg diduga pelakunya anak-anak petinggi teras di Yogyakarta.

Ironisnya, korban perkosaan malah dipenjara oleh polisi dengan tuduhan memberi keterangan palsu. Lalu merembet dianggap terlibat kegiatan ilegal PKI.

Nuansa rekayasa semakin terang ketika persidangan digelar tertutup. Wartawan yg menulis kasus Sum harus berurusan dengan Dandim 096. Hoegeng kemudian bertindak.

Kasus lainnya yg menghebohkan adalah penyelundupan mobil-mobil mewah bernilai miliaran rupiah oleh Robby Tjah Jadi. Berkat jaminan, pengusaha ini hanya beberapa jam mendekam di tahanan Komdak.

Sungguh berkuasanya si penjamin sampai Kejaksaan di Jakarta pun menghentikan kasus ini. Siapakah si penjamin itu? Tapi, Hoegeng tak gentar. Di kasus penyelundupan mobil mewah berikutnya, Robby tak berkutik. Pejabat yg terbukti menerima sogokan ditahan.

Rumor yg santer, gara-gara membongkar kasus ini pula yg menyebabkan Hoegeng di pensiunkan, 2 Oktober 1971 dari jabatan kapolri. Kasus ini ternyata melibatkan sejumlah pejabat dan perwira tinggi ABRI.

E.Pensiun Diri Dari Kepolisian

Bayangan banyak orang, memasuki masa pensiun orang pertama di kepolisian pasti menyenangkan. Tinggal menikmati rumah mewah berikut isinya, kendaraan siap pakai. Semua itu diperoleh dari sogokan para pengusaha.

Kasus inilah yang kemudian santer diduga sebagai penyebab pencopotan Hoegeng oleh Presiden Soeharto. Hoegeng dipensiunkan oleh Presiden Soeharto pada usia 49 tahun, di saat ia sedang melakukan pembersihan di jajaran kepolisian.

Kabar pencopotan itu diterima Hoegeng secara mendadak. Kemudian Hoegeng ditawarkan Soeharto untuk menjadi duta besar di sebuah Negara di Eropa, namun ia menolak. Alasannya karena ia seorang polisi dan bukan politisi.

Hoegeng diberhentikan dari jabatannya sebagai Kapolri pada 2 Oktober 1971, dan ia kemudian digantikan oleh Komisaris Jenderal Polisi Drs. Moh. Hasan.

F. Penyebab Diberhentikan Dari Kapolri

Pemberhentian Hoegeng dari jabatannya ini menyisakan sejumlah tanda tanya di antaranya karena masa jabatannya sebagai Kapolri saat itu belum habis.

Berbagai spekulasi muncul berkaitan dengan pemberhentiannya tersebut, antara lain dikarenakan figurnya terlalu populer dikalangan pers dan masyarakat.

Selain itu ada pula yang menyebutkan bahwa ia diganti karena kebijaksanaannya tentang penggunaan helm yang dinilai sangat kontroversi

Rumah dinas menjadi milik Hoegeng atas pemberian dari Kepolisian. Beberapa kapolda patungan membeli mobil Kingswood, yg kemudian menjadi satu-satunya mobil yg ia miliki.

Pengabdian yg penuh dari Pak Hoegeng tentu membawa konsekuensi bagi hidupnya sehari-hari. Pernah dituturkannya sekali waktu, setelah berhenti dari Kepala Polri dan pensiunnya masih diproses, suatu waktu dia tidak tahu apa yg masih dapat dimakan oleh keluarga karena di rumah sudah kehabisan beras.

G. Kesederhanaan Hidup Hoegeng Imam Santoso

Hoegeng memang seorang yang sederhana, ia mengajarkan pada istri dan anak-anaknya arti disiplin dan kejujuran. Semua keluarga dilarang untuk menggunakan berbagai fasilitas sebagai anak seorang Kapolri.

Aditya, salah seorang putra Hoegeng bercerita, ketika sebuah perusahaan motor merek Lambretta mengirimkan dua buah motor, sang ayah segera meminta ajudannya untuk mengembalikan barang pemberian itu. “Padahal saya yang waktu itu masih muda sangat menginginkannya,” kenang Didit.

Saking jujurnya, Hoegeng baru memiliki rumah saat memasuki masa pensiun. Atas kebaikan Kapolri penggantinya, rumah dinas di kawasan Menteng Jakarta pusat pun menjadi milik keluarga Hoegeng. Tentu saja, mereka mengisi rumah itu, setelah seluruh perabot inventaris kantor ia kembalikan semuanya.

Memasuki masa pensiun Hoegeng menghabiskan waktu dengan menekuni hobinya sejak remaja, yakni bermain musik Hawaiian dan melukis.

Lukisan itu lah yang kemudian menjadi sumber Hoegeng untuk membiayai keluarga. Karena harus anda ketahui, pensiunan Hoegeng hingga tahun 2001 hanya sebesar Rp.10.000 saja, itu pun hanya diterima sebesar Rp.7500!

Dalam acara Kick Andy di metro TV, Aditya menunjukkan sebuah SK tentang perubahan gaji ayahnya pada tahun 2001, yang menyatakan perubahan gaji pensiunan seorang Jendral Hoegeng dari Rp. 10.000 menjadi Rp.1.170.000.

H. Hoegeng Wafat

Pada 14 Juli 2004, Hoegeng meninggal dunia di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta dalam usia yang ke 83 tahun. Ia meninggal karena penyakit stroke dan jantung yang dideritanya. Hoegeng mengisi waktu luang dengan hobi melukisnya.

Itulah sekadar beberapa catatan kenangan untuk Pak Hoegeng yg baru saja meninggalkan kita. Seorang yg hidupnya senantiasa jujur, seorang yg menjadi simbol bagi hidup jujur, dan simbol bagi kejujuran yg hidup.

Kita tidak gentar menghadapi orang orang gede siapa pun. Kita hanya takut kepada Tuhan Yang Maha Esa. Jadi, walaupun keluarga sendiri, kalau salah tetap kita tindak. Geraklah the sooner the better-- Hoegeng

Sumber: https://www.biografiku.com
Share:

Yang Sakit itu Soedirman…PANGLIMA BESAR Tidak Pernah Sakit….!


Belanda ingin menghapus Republik Indonesia dari peta dunia.....dan berkuasa kembali di tanah jajahannya.  Tujuan utama mereka menangkap Presiden RI Soekarno dan wakilnya Mohammad Hatta.....membubarkan pemerintahan dan menghancurkan TNI.

19 Desember 1948....
dalam waktu singkat pasukan Belanda berhasil menguasai Kota Yogyakarta.....

Menit2  saat negara genting akibat serangan Belanda.... Panglima TNI Jenderal Soedirman menemui Presiden Soekarno. Soedirman menghadap dalam balutan mantel dan sandal.... Sudah berminggu2  panglima tentara ini tidak bisa bangun karena sakit.

Soedirman meminta Soekarno ikut gerilya...sementara Soekarno bersikeras tetap tinggal.... untuk selanjutnya berjuang melalui jalan diplomasi.

Soedirman berpendapat Belanda sudah ingkar janji.... tak ada gunanya diplomasi. 
Sementara Soekarno yakin hanya dengan jalan diplomasi Indonesia bisa mendapat dukungan internasional....guna menekan Belanda. 
Keduanya teguh pada pendapat masing2.....

Soal perbedaan sikap dan siasat ini wajar terjadi.....antara pemimpin sipil dan militer.

Menurut saya... apa yang dilakukan Soedirman bukanlah sebuah pembangkangan militer pada presiden.....Lagipula jika Soekarno ikut bergerilya justru akan mempersulit peperangan....

Soekarno pun bisa kita yakini tak sanggup hidup dalam medan gerilya....dan sangat mengandalkan diplomasi.  Jika Soekarno ikut gerilya..... gempuran militer Belanda di bawah Jenderal Spoor akan lebih gila kerasnya. 

Spoor begitu ingin Soekarno tewas dalam serangan......

Cindy Adams dalam biografinya Soekarno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia....menulis  dialog antara Bung Karno dengan Panglima Besar TNI Jenderal Soedirman....saat detik-detik agresi militer Belanda tanggal 19 Desember 1948 di Yogyakarta.

Dua jam sebelum pendaratan pasukan Belanda....Panglima Besar TNI Jenderal Soedirman.....yang masih berumur 32 tahun....membangunkan Bung Karno.

Setelah menyampaikan informasi yang diterimanya terlebih dahulu..... Soedirman mendesak Bung Karno ikut dengan dia ke hutan....

Tak berselang lama Bung Karno berkata....“Dirman.... engkau seorang prajurit. Tempatmu di medan pertempuran dengan anak buahmu....Dan tempatmu bukanlah pelarian bagi saya..... Saya harus tinggal di sini.....mungkin bisa berunding untuk kita dan memimpin rakyat kita semua," kata Bung Karno ketika itu.

“Kemungkinan Belanda mempertaruhkan kepala Bung Karno.....Jika Bung Karno tetap tinggal di sini....
Belanda mungkin menembak saya. Dalam kedua hal ini....saya menghadapi kematian,...
tapi jangan kuatir. 
Saya tidak takut....Anak2 kita menguburkan tentara Belanda yang mati....Kita perang dengan cara yang beradab....
akan tetapi …”

Soedirman mengepalkan tinjunya.....
” Kami akan peringatkan kepada Belanda....kalau Belanda menyakiti Soekarno......
bagi mereka tak ada ampun lagi. Belanda akan mengalami pembunuhan besar2 an.”

Soedirman melangkah ke luar dan dengan cemas melihat udara....
Ia masih belum melihat tanda2.....
“Apakah ada instruksi terakhir sebelum saya berangkat...???” kata dia.

“Ya....
jangan adakan pertempuran di jalanan dalam kota.... Kita tidak mungkin menang. 
Akan tetapi pindahkanlah tentaramu ke luar kota Dirman....dan berjuanglah sampai mati.
Saya perintahkan kepadamu untuk menyebarkan tentara ke desa2.... Isilah seluruh ngarai dan bukit....
Tempatkan anak buahmu di setiap semak belukar.....Ini adalah perang gerilya semesta”.

“Sekali pun kita harus kembali pada cara amputasi tanpa obat bius.....dan mempergunakan daun pisang sebagai perban.....
namun jangan biarkan dunia berkata bahwa.....kemerdekaan kita dihadiahkan dari dalam tas seorang diplomat. 
Perlihatkan kepada dunia bahwa..... kita membeli kemerdekaan itu dengan mahal......
dengan darah...
keringat dan tekad yang tak kunjung padam..." kata pak Karno..

“Dan jangan ke luar dari lembah  dan bukit.... hingga Presidenmu memerintahkannya.
Ingatlah.....
sekali pun para pemimpin tertangkap..... orang yang di bawahnya harus menggantikannya....
baik ia militer maupun sipil. 
Dan Indonesia tidak akan menyerah!”.

Sebelumnya....
Presiden Sukarno menyarankan agar Jenderal Soedirman menjalani perawatan saja.....karena penyakit Soedirman pada waktu itu tergolong parah....

“Yang sakit itu Soedirman…panglima besar tidak pernah sakit….” Itu jawaban sang Jenderal.

Sementara itu Belanda sudah menguasai Lapangan Udara Maguwo.....
Sekitar pukul 11.00 WIB...pasukan baret hijau Belanda bergerak memasuki kota. 
Tujuan mereka menangkap Soekarno-Hatta dan para pejabat RI lain.

Tak butuh waktu lama untuk mencapai Istana Negara.....
Pertahanan TNI yang tersisa terlalu lemah untuk menghentikan gerak maju pasukan komando Belanda pimpinan Letkol Van Beek....

Setelah melumpuhkan pengawal presiden....baret hijau Belanda mengepung istana. 
Soekarno keluar menemui pasukan penyerang itu.....Overste Van Beek memberi hormat.

"U staat onder huisarrest." Artinya anda sekarang menjadi tahanan rumah.....
Saat itu tentara Belanda juga menahan Mohammad Hatta....dan hampir seluruh menteri RI.

Belanda merasa menang saat itu.....
Mereka mengira sudah melumpuhkan pemerintahan Indonesia. 
Tapi mereka tak berhasil menangkap Jenderal Soedirman....
Sebelumnya Kolonel Van Langen mengira Soedirman masih berkumpul di istana.....bersama Soekarno dan pejabat lain....

Ternyata saat pasukan baret hijau mengepung Istana.....Soedirman telah berangkat untuk memulai perang gerilya. 
Jenderal yang sakit2 tan itu pantang menyerah......
Soedirman menolak permintaan Soekarno untuk bersembunyi di dalam kota dan menunggu sakitnya sembuh. 
Dengan paru-paru hanya sebelah.....Soedirman menunjukkan tekadnya sebagai panglima pemimpin pasukan.

Pada Soedirman republik yang masih muda ini berharap.....Soedirman tak kenal kata menyerah. 
Dari atas tandu dia membuat pasukan lawan frustasi......Soedirman berjuang hingga Belanda terusir dari Indonesia selamanya.
Share:

JENDERAL KOHLER Tertembak di depan Masjid Raya Baiturrahman BANDA ACEH

Jenderal Kohler roboh di areal masjid tersebut. Seorang Pejuang Atjeh dengan posisi merunduk melepaskan tembakan dari jarak 100 meter dan mengenai jantung sang jenderal. Siapakah dia......?

Pada Tanggal 26 Maret 1873, Belanda mengeluarkan maklumat perang terhadap Aceh. Perang ini merupakan perang terlama dan paling melelahkan yang pernah dilakoni oleh Belanda.

Dimulai agresi Belanda pertama terhadap Aceh tahun 26 Maret 1873, Pasukan Belanda yang dipimpin oleh Jenderal Kohler berhasil mendarat di pantai Ulee Lheu setelah mematahkan pertahanan pantai Kesultanan Aceh.

Pasukan Belanda kemudian bergerak menuju pusat ibu kota kerajaan, Kutaradja (Banda Aceh saat ini-red). Kedatangan Belanda ini mendapat perlawanan sengit dari pejuang Aceh.

Namun karena persenjataan Belanda yang lengkap membuat pejuang Aceh terpaksa mundur, dan Belanda berhasil menguasai Masjid Raya Baiturrahman. Beberapa sumber disebutkan, saat itu pasukan ekspedisi Belanda berkekuatan 5.000 orang.
dikutip dari sebuah sumber pada tanggal 14 April 1873, ketika Jenderal Kohler sedang menginspeksi pasukan Belanda di areal mesjid tersebut, tiba-tiba seorang pejuang Aceh dengan posisi merunduk melepaskan tembakan dari jarak 100 meter dan mengenai jantung sang jenderal.

Kohler roboh di bawah pohon Geulumpang atau kelumpang yang tumbuh di halaman Mesjid Raya Baiturrahman. Pohon tersebut oleh pihak Belanda dinamakan Kohlerboom atau pohon Kohler.
Pelaku penembakan Kohler diketahui seorang remaja Laskar Aceh berusia 19 tahun yang bersembunyi di reruntuhan masjid.
Peristiwa tersebut tentu mengejutkan pasukan Belanda dan beritanya tersebar luas keseluruh dunia, terutama Eropa pada waktu itu.
Sementara menurut kisah sang pahlawan atau sniper penembak jenderal Kohler tersebut gugur ditembak pasukan Belanda beberapa saat setelah kejadian.

*****
MISTERI siapa nama penembak Kohler hingga kini masih tersimpan erat. Namun menurut Teuku Nukman, 68 tahun, cucu Imum Lueng Bata, yang pernah diwawancarai beberapa waktu lalu, sang penembak jitu tersebut bernama Teungku Imum Lueng Bata.
“Banyak orang dan juga media tidak menuliskan siapa sebenarnya penembak misterius Jenderal Kohler,” ujarnya.
Teungku Imum Lueng Bata merupakan pemimpin Kemukiman Lueng Bata. Pemimpin tersebut bernama asli "Teuku Nyak Radja". Ia anak Teungku Chik Lueng Bata. Dulunya Lueng Bata daerah bebas dan berada langsung di bawah kesultanan.

Nukman menduga karena saat itu suasana tidak kondusif, para pengikut sepakat melindungi pimpinannya. “Maka, penembak Kohler juga dirahasiakan. Lagi pula namanya juga sniper, kan pastinya sifatnya rahasia,” ujar Nukman.
Jarak Imum Lueng Bata dengan Kohler, kata Nukman, sekitar 100 meter. Ia menilai hanya senjata seadanya yang dipakai Lueng Bata untuk menembak. Teuku Njak Radja hanya melepaskan satu tembakan dan tepat mengenai lensa keker Kohler. Peluru tembus ke dada dan Kohler meregang sembari berkata :
“Oh God ik ben getroffen (Oh Tuhan Aku Kena)”.

Yang tidak diketahui Nukman hingga sekarang adalah tempat Imum Lueng Bata dikubur.......?

Referensi sejarah :
  • Menyebutkan Imum Lueng Bata meninggal dalam pengejaran tentara Belanda, tetapi tak jelas lokasinya.
  • Ada yang mengatakan Beliau Meninggal di Geulumpang Minyeuk, Pidie.
Hanya Allah yang tahu artinya mengapa beliau tidak diketahui makamnya. Mungkin agar beliau tetap terlindungi dari pengejaran Belanda saat itu,” ujar Nukman.
Share:

Profesor Dokter Sulianti Saroso


Profesor Dokter Sulianti Saroso

Perempuan kelahiran Karangasem, Bali tanggal 10 Mei 1917 memiliki nama panjang Julie Sulianti Saroso.
Menempuh pendidikan dasar berbahasa Belanda ELS (Europeesche Lagere School), lalu pendidikan menengah elite di Gymnasium Bandung, melanjutkan pendidikan tinggi di Geneeskundige Hoge School (GHS), sebutan baru bagi Sekolah Kedokteran STOVIA di Batavia. Lulus sebagai dokter 1942.
Di Yogya, Sulianti, yang oleh teman-temannya sering dipanggil sebagai Julie, itu benar-benar terjun sebagai dokter perjuangan. Ia mengirim obat-obatan ke kantung-kantung gerilyawan republik.
Filosofinya sebagai dokter bukan sebatas mengobati pasien, melainkan membuat masyarakat (terutama kalangan menengah ke bawah) hidup sehat, sejahtera, dan bahagia.

Nama beliau di abadikan sebagai nama Rumah Sakit di kawasan Sunter Jakarta Utara.
Share:

Usman dan Harun, Marinir Indonesia yang Digantung di Singapura.

Tanggal 18 Maret 1943, Usman Janatin lahir di dusun kecil di Purbalingga, Jawa Tengah. Haji Muhammad Ali Hasan, sang ayah, tentunya tidak pernah mengira anak lelakinya itu kelak menutup mata pada usia yang masih sangat muda. Ya, itulah yang memang kemudian terjadi. Usman tewas di tiang gantungan negeri tetangga saat umurnya belum beranjak dari angka 25 tahun.

Kisah sedih sekaligus miris tersebut bermula dari tahun 1962. Usman yang baru saja lulus sekolah menengah atas langsung mendaftarkan diri ke TNI. Ia ingin menjadi marinir. Tanggal 1 Juni 1962, impian Usman menjadi kenyataan, ia diterima sebagai anggota Korps Komando Operasi (KKO), nama korps marinir TNI Angkatan Laut saat itu.

Tahun 1962 itu, Indonesia sedang terlibat konfrontasi dengan Federasi Malaya atau Persekutuan Tanah Melayu, sebutan untuk Malaysia sebelum negeri jiran itu resmi dideklarasikan pada 16 September 1963.

Sukarno selaku Presiden Republik Indonesia rupanya tidak senang melihat tingkah Federasi Malaya yang berambisi mencaplok Sabah, Sarawak, bahkan Brunei Darussalam, yang terletak di Pulau Borneo alias Kalimantan bagian utara, berdampingan dengan wilayah NKRI.

Menurut Sukarno, upaya pembentukan negara Malaysia dengan mengincar sebagian wilayah Kalimantan, adalah bentuk baru imperialisme yang berpotensi mengancam kedaulatan Indonesia. Federasi Malaya, bagi Sukarno, hanyalah negara boneka Inggris (Hellwig & Tagliacozzo, The Indonesia Reader: History, Culture, Politics, 2009:345).

Sang penyambung lidah rakyat Indonesia itu pun dengan lantang menyerukan gerakan Ganyang Malaysia. Dan nantinya, Usman bakal memainkan peran yang sangat penting.

Bikin Gempar di Negeri Singa
Seruan Ganyang Malaysia atas nama martabat bangsa yang dilantangkan Sukarno tak pelak membuat darah muda Usman Janatin bergolak. Meski belum lama diterima menjadi marinir di KKO, Usman sudah berani mengajukan diri sebagai sukarelawan untuk dilibatkan dalam operasi militer Komando Mandala Siaga.

Operasi militer itu dipimpin oleh Kepala Staf TNI Angkatan Udara Omar Dhani yang ditunjuk langsung Presiden Sukarno untuk menggantikan Soerjadi Soerjadarma (Salim Said, Dari Gestapu ke Reformasi, 2013). TNI saat itu membutuhkan 3 sukarelawan. Selain Usman Janatin, ada pula Harun Thohir dan Gani bin Arup.

Tanggal 8 Maret 1965, ketiga sukarelawan tersebut diberikan misi penting, yakni melakukan aksi sabotase di Singapura. Dari ketiganya, Usman Janatin yang dipilih sebagai komandan (Sri Sutjiatiningsih & Soejanto, Harun, 1982:28). Singapura saat itu menjadi bagian dari Federasi Malaysia dan merupakan salah satu titik terpenting yang harus dilumpuhkan.

Tugas Usman, Harun, dan Gani sebenarnya adalah memantik ricuh di Singapura dengan mengeksploitasikan perbedaan ras serta merusak instalasi-instalasi penting. Singapura yang dihuni oleh banyak orang keturunan Cina memang berpotensi tinggi menuai konflik jika dibenturkan dengan ras Melayu yang menjadi penduduk asli di sebagian besar wilayah Malaysia.

Berbekal 12,5 kilogram bahan peledak, ketiganya diperintahkan untuk meledakkan sebuah rumah tenaga listrik. Namun, yang dibom ternyata bukan target semula, melainkan gedung Hong Kong and Shanghai Bank atau MacDonald House di Orchard Road, Central Area, Singapura (Gretchen Liu, The Singapore Foreign Service, 2005:83).

Tanggal 10 Maret 1965 menjelang petang, bangunan di kawasan padat yang di dalamnya terdapat puluhan orang sipil itu berguncang hebat. Letusan besar yang berasal dari sebuah tas travel meluluhlantakkan gedung bank yang dibangun sejak 1949 tersebut. Saking hebatnya ledakan itu, semua mobil yang diparkir di halaman gedung turut hancur, juga gedung-gedung lain di sekitarnya.

Tercatat, 3 orang tewas dan tidak kurang dari 33 orang lainnya mengalami luka-luka, baik luka berat maupun ringan (The Fight Against Terror, 2004:19). Korban tewas adalah dua wanita pegawai Hong Kong and Shanghai Bank, Elizabeth Choo (36 tahun) dan Juliet Goh (23 tahun), serta seorang sopir bernama Mohammed Yasin bin Kesit (45 tahun).

Sempat melarikan diri, Usman dan Harun tertangkap tiga hari setelah insiden tersebut terjadi, sementara Gani entah bagaimana caranya berhasil lolos. Usman dan Harun pun diajukan ke pengadilan dan divonis hukuman mati.

Garis Tipis Pahlawan Atau Teroris
Bulan-bulan terakhir di tahun 1965 itu, Indonesia sedang diterpa polemik usai terjadinya Gerakan 30 September. Hingga akhirnya, Presiden Sukarno harus merelakan posisinya diambil-alih oleh Soeharto yang sekaligus menandai bergantinya rezim kekuasaan di Indonesia.

Ketika Indonesia sedang sibuk mengurusi guncangan di dalam negeri, Usman Janatin dan Harun Thohir harus menghadapi pengadilan setelah 8 bulan ditahan. Pada 4 Oktober 1964, keduanya dihadapkan ke depan sidang Pengadilan Mahkamah Tinggi Singapura dengan dakwaan telah melanggar control area, melakukan pembunuhan, serta menempatkan alat peledak dan menyalakannya.

Di persidangan, baik Usman maupun Harun menolak dakwaan tersebut. Keduanya beralasan, aksi tersebut bukanlah kemauan mereka sendiri, melainkan suatu tindakan yang memang harus dilakukan karena dalam situasi perang. Usman dan Harun pun meminta kepada sidang agar mereka diperlakukan sebagai tawanan perang.

Tanggal 15 Oktober 1965, pemerintah Indonesia mengirimkan utusan ke Singapura untuk menyelamatkan nasib Usman dan Harun (Pahlawan Nasional Usman bin Haji Muhamad Ali alias Janatin, 1980:43). Namun, usaha tersebut gagal dan 5 hari berselang, keduanya dijatuhi vonis berat berupa hukuman mati.

Upaya demi upaya dilakukan agar Usman dan Harun bisa terhindar dari maut. Namun, hingga asa terakhir dengan mengajukan permohonan grasi kepada Presiden Singapura saat itu, Yusuf bin Ishak, tetap saja tidak membuahkan hasil. Bahkan, permintaan pemerintah Indonesia yang berharap Usman dan Harun bisa dipertemukan dengan keluarga sebelum hukuman mati dilaksanakan, juga tidak dikabulkan.

Dan akhirnya, hari eksekusi datang juga. Pada jam 06.00 pagi waktu Singapura, tanggal 17 Oktober 1968, tepat hari ini 50 tahun lalu, Usman dan Harun dihukum gantung di Penjara Changi. Siang harinya, jenazah keduanya dipulangkan ke tanah air dan dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata pada hari itu juga.

Ratusan ribu rakyat Indonesia di Jakarta mengiringi pemakaman Usman dan Harun dengan rasa duka yang mendalam. Keduanya pun dianugerahi tanda kehormatan Bintang Sakti dan gelar Pahlawan Nasional oleh pemerintah. Bahkan, nama Usman-Harun diabadikan sebagai nama Kapal Perang Republik Indonesia yang diluncurkan pada Juni 2001.

Bagi sebagian rakyat Indonesia, Usman Janatin dan Harun Thohir barangkali dianggap sebagai pahlawan kusuma bangsa. Namun, label teroris tetap saja sangat sulit untuk diingkari atas aksi nir kemanusiaan yang telah mereka lakukan, sekalipun atas nama perang.

Hubungan RI-Singapura 

Peristiwa tersebut tentunya memengaruhi hubungan kedua negara. Setelah beberapa tahun berselang, PM Lee Kuan Yew menaburkan bunga di makam Usman dan Harun. Arsip Harian Kompas, 28 Mei 1973 tersebut menyebutkan, PM Lee saat itu tak hanya menaburkan bunga di atas makam keduanya. Taburan bunga itu berlangsung sesaat setelah Lee menaburkan bunga di makam Pahlawan Revolusi. Meski berlangsung singkat, namun peristiwa ini merupakan titik bersejarah dalam perkembangan hubungan RI dan Singapura pasca-eksekusi mati Usman dan Harun, delapan tahun sebelumnya. Lee dalam bukunya berjudul From Third World to First: The Singapore Story:1965-2000, seperti dikutip dari pemberitaan Kompas.com 24 Maret 2014 menyatakan, ketika itu Dubes Singapura untuk Indonesia, Lee Khoon Choy, yang menyarankan untuk menutup episode kelam itu dengan sebuah bahasa tubuh diplomatik yang bersahabat. Lee Khon Choy akhirnya menyarankan PM Lee untuk meletakkan karangan bunga di makam Usman dan Harun. 

Hubungan kedua negara kembali memanas saat Pemerintah RI berencana memberi nama salah satu kapal perang baru buatan Inggris dengan nama KRI Usman-Harun. Pemerintah Singapura menganggap, pemberian nama itu akan melukai rakyat Singapura terutama mereka yang menjadi korban peledakan bom. Namun protes yang dilayangkan lewat Menteri Luar Negeri K Shanmugam ini hanya dianggap sebagai suatu bentuk keprihatinan. "Kenapa harus seperti itu (diganti)?

Kita cukup mencatat keprihatinan dari Pemerintah Singapura. Saya rasa demikian," ucap Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa seperti dikutip dari pemberitaan Kompas.com, 6 Februari 2014. Namun karena tidak diindahkan, Pemerintah Singapura melalui Menteri Pertahanan Singapura Ng Eng Hen mengatakan negaranya melarang kapal perang Indonesia itu memasuki teritorinya, termasuk pelabuhan dan pusat pangkalan angkatan laut. Meski dilarang untuk memasuki perairan Singapura, namun Panglima TNI Jenderal Moeldoko memastikan tak akan mengubah nama KRI Usman-Harun.
Share:

Kisah nyata : SAAT-SAAT TERAKHIR BUNG KARNO TERUSIR DARI ISTANA NEGARA.

"Jadikan deritaku ini sebagai kesaksian, bahwa kekuasaan seorang presiden sekalipun ada batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng hanyalah kekuasaan rakyat. Dan diatas segalanya adalah kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.” (Soekarno, 1967)
Tak lama setelah mosi tidak percaya parlemen bentukan Nasution di tahun 1967 dam MPRS menunjuk Suharto sebagai Presiden RI, Bung Karno menerima surat untuk segera meninggalkan Istana dalam waktu 2 X 24 Jam.
Bung Karno tidak diberi waktu untuk menginventarisir barang-barang pribadinya. Wajah-wajah tentara yang mengusir Bung Karno tidak bersahabat lagi. "Bapak harus cepat meninggalkan Istana ini dalam waktu dua hari dari sekarang!".
Bung Karno pergi ke ruang makan dan melihat Guruh sedang membaca sesuatu di ruang itu. "Mana kakak-kakakmu" kata Bung Karno. Guruh menoleh ke arah Bapaknya dan berkata "Mereka pergi ke rumah Ibu".
Rumah Ibu yang dimaksud adalah rumah Fatmawati di Jalan Sriwijaya, Kebayoran Baru. Bung Karno berkata lagi "Mas Guruh, Bapak tidak boleh lagi tinggal di Istana ini lagi, kamu persiapkan barang-barangmu, jangan kamu ambil lukisan atau hal lain, itu punya negara". Kata Bung Karno,
Bung Karno lalu melangkah ke arah ruang tamu Istana, disana ia mengumpulkan semua ajudan-ajudannya yang setia. Beberapa ajudannya sudah tidak kelihatan karena para ajudan bung karno sudah ditangkapi karena diduga terlibat Gestapu. "Aku sudah tidak boleh tinggal di Istana ini lagi, kalian jangan mengambil apapun, Lukisan-lukisan itu, Souvenir dan macam-macam barang. Itu milik negara.
Semua ajudan menangis saat tau Bung Karno mau pergi "Kenapa bapak tidak melawan, kenapa dari dulu bapak tidak melawan..." Salah satu ajudan separuh berteriak memprotes tindakan diam Bung Karno.
"Kalian tau apa, kalau saya melawan nanti perang saudara, perang saudara itu sulit jikalau perang dengan Belanda jelas hidungnya beda dengan hidung kita. Perang dengan bangsa sendiri tidak, wajahnya sama dengan wajahmu...keluarganya sama dengan keluargamu, lebih baik saya yang robek dan hancur daripada bangsa saya harus perang saudara". tegas bung karno kepada ajudannya.
Tiba-tiba beberapa orang dari dapur berlarian saat mendengar Bung Karno mau meninggalkan Istana. "Pak kami memang tidak ada anggaran untuk masak, tapi kami tidak enak bila bapak pergi, belum makan. Biarlah kami patungan dari uang kami untuk masak agak enak dari biasanya".
Bung Karno tertawa "Ah, sudahlah sayur lodeh basi tiga itu malah enak, kalian masak sayur lodeh saja. Aku ini perlunya apa..."
Di hari kedua saat Bung Karno sedang membenahi baju-bajunya datang perwira suruhan Orde Baru. "Pak, Bapak harus segera meninggalkan tempat ini". Beberapa tentara sudah memasuki ruangan tamu dan menyebar sampai ke ruang makan.
Mereka juga berdiri di depan Bung Karno dengan senapan terhunus. Bung Karno segera mencari koran bekas di pojok kamar, dalam pikiran Bung Karno yang ia takutkan adalah bendera pusaka akan diambil oleh tentara.
Lalu dengan cepat Bung Karno membungkus bendera pusaka dengan koran bekas, ia masukkan ke dalam kaos oblong, Bung Karno berdiri sebentar menatap tentara-tentara itu, namun beberapa perwira mendorong tubuh Bung Karno untuk keluar kamar.
Sesaat ia melihat wajah Ajudannya Maulwi Saelan ( pengawal terakhir bung karno ) dan Bung Karno menoleh ke arah Saelan.
"Aku pergi dulu" kata Bung Karno dengan terburu-buru. "Bapak tidak berpakaian rapih dulu, Pak" Saelan separuh berteriak.
Bung Karno hanya mengibaskan tangannya. Bung Karno langsung naik VW Kodok, satu-satunya mobil pribadi yang ia punya dan meminta sopir diantarkan ke Jalan Sriwijaya, rumah Ibu Fatmawati.
Di rumah Fatmawati, Bung Karno hanya duduk seharian saja di pojokan halaman, matanya kosong. Ia meminta bendera pusaka dirawat hati-hati. Bung Karno kerjanya hanya mengguntingi daun-daun di halaman.
Kadang-kadang ia memegang dadanya yang sakit, ia sakit ginjal parah namun obat yang biasanya diberikan sudah tidak boleh diberikan. Sisa obat di Istana dibuangi.
Suatu saat Bung Karno mengajak ajudannya yang bernama Nitri gadis Bali untuk jalan-jalan. Saat melihat duku, Bung Karno kepengen duku tapi dia tidak punya uang. "Aku pengen duku, ...Tru, Sing Ngelah Pis, aku tidak punya uang" Nitri yang uangnya pas-pasan juga melihat ke dompetnya, ia merasa cukuplah buat beli duku sekilo.
Lalu Nitri mendatangi tukang duku dan berkata "Pak Bawa dukunya ke orang yang ada di dalam mobil". Tukang duku itu berjalan dan mendekat ke arah Bung Karno. "Mau pilih mana, Pak manis-manis nih " sahut tukang duku dengan logat betawi kental.
Bung Karno dengan tersenyum senang berkata "coba kamu cari yang enak". Tukang Duku itu mengernyitkan dahinya, ia merasa kenal dengan suara ini. Lantas tukang duku itu berteriak "Bapak...Bapak....Bapak...Itu Bapak...Bapaak" Tukang duku malah berlarian ke arah teman-temannya di pinggir jalan" Ada Pak Karno, Ada Pak Karno...." mereka berlarian ke arah mobil VW Kodok warna putih itu dan dengan serta merta para tukang buah memberikan buah-buah pada Bung Karno.
Awalnya Bung Karno tertawa senang, ia terbiasa menikmati dengan rakyatnya. Tapi keadaan berubah kontan dalam pikiran Bung Karno, ia takut rakyat yang tidak tau apa-apa ini lantas digelandang tentara gara-gara dekat dengan dirinya. "Tri, berangkat ....cepat" perintah Bung Karno dan ia melambaikan ke tangan rakyatnya yang terus menerus memanggil namanya bahkan ada yang sampai menitikkan air mata. Mereka tau pemimpinnya dalam keadaan susah.
Mengetahui bahwa Bung Karno sering keluar dari Jalan Sriwijaya, membuat beberapa perwira pro Suharto tidak suka. Tiba-tiba satu malam ada satu truk ke rumah Fatmawati dan mereka memindahkan Bung Karno ke Bogor. Di Bogor ia dirawat oleh Dokter Hewan!...
Tak lama setelah Bung Karno dipindahkan ke Bogor, datanglah Rachmawati, ia melihat ayahnya dan menangis keras-keras saat tau wajah ayahnya bengkak-bengkak dan sulit berdiri.
Saat melihat Rachmawati, Bung Karno berdiri lalu terhuyung dan jatuh. Ia merangkak dan memegang kursi. Rachmawati langsung teriak menangis.
Malamnya Rachmawati memohon pada Bapaknya agar pergi ke Jakarta saja dan dirawat keluarga. "Coba aku tulis surat permohonan kepada Presiden" kata Bung Karno dengan suara terbata. Dengan tangan gemetar Bung Karno menulis surat agar dirinya bisa dipindahkan ke Jakarta dan dekat dengan anak-anaknya.
Rachmawati adalah puteri Bung Karno yang paling nekat. Pagi-pagi setelah mengambil surat dari bapaknya, Rachma langsung ke Cendana rumah Suharto. Di Cendana ia ditemui Bu Tien yang kaget saat melihat Rachma ada di teras rumahnya.
"Lhol, Mbak Rachma ada apa?" tanya Bu Tien dengan nada kaget. Bu Tien memeluk Rachma, setelah itu Rachma bercerita tentang nasib bapaknya. Hati Bu Tien rada tersentuh dan menggenggam tangan Rachma lalu dengan menggenggam tangan Rachma bu Tien mengantarkan ke ruang kerja Pak Harto.
"Lho, Mbak Rachma..ada apa?" kata Pak Harto dengan nada santun. Rachma-pun menceritakan kondisi Bapaknya yang sangat tidak terawat di Bogor. Pak Harto berpikir sejenak dan kemudian menuliskan memo yang memerintahkan anak buahnya agar Bung Karno dibawa ke Djakarta. Diputuskan Bung Karno akan dirawar di Wisma Yaso.
Bung Karno lalu dibawa ke Wisma Yaso, tapi kali ini perlakuan tentara lebih keras. Bung Karno sama sekali tidak diperbolehkan keluar dari kamar. Seringkali ia dibentak bila akan melakukan sesuatu, suatu saat Bung Karno tanpa sengaja menemukan lembaran koran bekas bungkus sesuatu, koran itu langsung direbut dan ia dimarahi.
Kamar Bung Karno berantakan sekali, jorok dan bau. Memang ada yang merapikan tapi tidak serius. Dokter yang diperintahkan merawat Bung Karno, dokter Mahar Mardjono nyaris menangis karena sama sekali tidak ada obat-obatan yang bisa digunakan Bung Karno.
Ia tahu obat-obatan yang ada di laci Istana sudah dibuangi atas perintah seorang Perwira Tinggi. Mahar mardjono hanya bisa memberikan Vitamin dan Royal Jelly yang sesungguhnya hanya madu biasa. Jika sulit tidur Bung Karno diberi Valium, Sukarno sama sekali tidak diberikan obat untuk meredakan sakit akibat ginjalnya tidak berfungsi.
Banyak rumor beredar di masyarakat bahwa Bung Karno hidup sengsara di Wisma Yaso, beberapa orang diketahui diceritakan nekat membebaskan Bung Karno.
Bahkan ada satu pasukan khusus KKO dikabarkan sempat menembus penjagaan Bung Karno dan berhasil masuk ke dalam kamar Bung Karno, tapi Bung Karno menolak untuk ikut karena itu berarti akan memancing perang saudara.
Pada awal tahun 1970 Bung Karno datang ke rumah Fatmawati untuk menghadiri pernikahan Rachmawati. Bung Karno yang jalan saja susah datang ke rumah isterinya itu. Wajah Bung Karno bengkak-bengkak.
Ketika tau Bung Karno datang ke rumah Fatmawati, banyak orang langsung berbondong-bondong ke sana dan sesampainya di depan rumah mereka berteriak "Hidup Bung Karno....hidup Bung Karno....Hidup Bung Karno...!!!!!"
Sukarno yang reflek karena ia mengenal benar gegap gempita seperti ini, ia tertawa dan melambaikan tangan, tapi dengan kasar tentara menurunkan tangan Sukarno dan menggiringnya ke dalam. Bung Karno paham dia adalah tahanan politik.
Masuk ke bulan Februari penyakit Bung Karno parah sekali ia tidak kuat berdiri, tidur saja. Tidak boleh ada orang yang bisa masuk. Ia sering berteriak kesakitan. Biasanya penderita penyakit ginjal memang akan diikuti kondisi psikis yang kacau.
Ia berteriak " Sakit....Sakit ya Allah...Sakit..." tapi tentara pengawal diam saja karena diperintahkan begitu oleh komandan. Sampai-sampai ada satu tentara yang menangis mendengar teriakan Bung Karno di depan pintu kamar. Kepentingan politik tak bisa memendung rasa kemanusiaan, dan air mata adalah bahasa paling jelas dari rasa kemanusiaan itu.
Hatta yang dilapori kondisi Bung Karno menulis surat pada Suharto dan mengecam cara merawat Sukarno. Di rumahnya Hatta duduk di beranda sambil menangis sesenggukan, ia teringat sahabatnya itu. Lalu dia bicara pada isterinya Rachmi untuk bertemu dengan Bung Karno.
"Kakak tidak mungkin kesana, Bung Karno sudah jadi tahanan politik" ujar istri bung hatta.
Hatta menoleh pada isterinya dan berkata "Sukarno adalah orang terpenting dalam pikiranku, dia sahabatku, kami pernah dibesarkan dalam suasana yang sama agar negeri ini merdeka. Bila memang ada perbedaan diantara kami itu lumrah tapi aku tak tahan mendengar berita Sukarno disakiti seperti ini".
Hatta menulis surat dengan nada tegas kepada Suharto untuk bertemu Sukarno, ajaibnya surat Hatta langsung disetujui, ia diperbolehkan menjenguk Bung Karno.
Hatta datang sendirian ke kamar Bung Karno yang sudah hampir tidak sadar, tubuhnya tidak kuat menahan sakit ginjal. Bung Karno membuka matanya. Hatta terdiam dan berkata pelan "Bagaimana kabarmu, No" kata Hatta ia tercekat mata Hatta sudah basah.
Bung Karno berkata pelan dan tangannya berusaha meraih lengan Hatta "Hoe gaat het met Jou?" kata Bung Karno dalam bahasa Belanda - Bagaimana pula kabarmu, Hatta - Hatta memegang lembut tangan Bung Karno dan mendekatkan wajahnya, air mata Hatta mengenai wajah Bung Karno dan Bung Karno menangis seperti anak kecil.
Dua proklamator bangsa ini menangis, di sebuah kamar yang bau dan jorok, kamar yang menjadi saksi ada dua orang yang memerdekakan bangsa ini di akhir hidupnya merasa tidak bahagia, suatu hubungan yang menyesakkan dada.
Tak lama setelah Hatta pulang, Bung Karno meninggal. Sama saat Proklamasi 1945 Bung Karno menunggui Hatta di kamar untuk segera membacai Proklamasi, saat kematiannya-pun Bung Karno juga seolah menunggu Hatta dulu, baru ia berangkat menemui Tuhan...
Share:

Komunitas Cinta Pejuang Indonmesia (KCPI)

Tentang kami

Selamat datang di Komunitas Cinta Pejuang Indonesia (KCPI) Salam KCPI... Komunitas Cinta Pejuang Indonesia (KCPI) mulai ada sejak ta...

Profil KCPI

Profil Founder KCPI

PENDAFTARAN ANGGOTA

PENDAFTARAN ANGGOTA
Klik Gambar untuk melanjutkan

Video Profil KCPI

Postingan Populer