Belanda membujuk Cut Meutia supaya menyerah. Bujukan itu tidak berhasil. Dalam bulan Mei 1905 Teuku Cik Tunong ditangkap Belanda dan rnenjalani hukuman tembak. Sesuai pesan suaminya Cik Tunong, Cut Meutia kawin lagi dengan Pang Nangru, Pang Nangru kawan akrab Cik Tunong,
setelah itu Cut Meutia melanjutkan perjuangan. Pada 26 September 1910 terjadilah
pertempuran di Paya Ciciem yang menewaskan Pang Nangru. Cut Meutia dapat meloloskan diri. Ia diserahi untuk memimpin pasukan yang berkekuatan hanya 45 orang dengan 13 pucuk senjata.
Dengan seorang anaknya bemama
Raja Sabil yang berumur sebelas tahun Cut Meutia melanjutkan perjuangan. Cut Meutia terns berjuang dan suatu hari ia terkepung dan meninggal dunia pada tahun 1910.
Pada saat itu perang Aceh telah berlangsung, mula-mula ia berjuang menyelamatkan kampungnya, kemudian meluas sampai ke daerah Meulaboh.
Teuku Umar pada tahun 1883 berdamai dengan Belanda, sebenarnya ini hanya siasat belaka, karena kemudian Teuku Umar membunuh 32 orang tentara Belanda dan berhasil merampas senjatanya.
Pada 29 Maret 1896, Teuku Umar berhasil membawa 800 pucuk senjata, 25.000 butir peluru, uang 18.000 dollar dan peralatan lainnya. Atas kejadian ini Belanda menjadi marah dan menggerakkan pasukannya dibawah panglima
Van Heutz.
Pertempuran meletus 10 Februari 1899 malam dan Teuku Umar terkena tembakan, sehingga gugur sebagai kusuma bangsa.
Tahun 1873 meletus
perang Aceh dan tahun 1875
Belanda berhasil menduduki daerah VI Mukim. Dalam pertempuran melawan Belanda, suami Cut Nyak Dien meninggal dunia tahun 1878. Sejak itu Cut Nyak Dien meneruskan perjuangan dan bersumpah untuk membalas kematian suaminya.
Pada tahun 1880 ia menikah untuk yang kedua kalinya dengan kemenakan ayahnya, yaitu
Teuku Umar, seorang pejuang Aceh pula.
Berkat kegigihan Teuku Umar dapat merebut daerah VI Mukim dari tangan Belanda tahun 1884. Teuku Umar gugur 11 Februari 1899. Sejak itu Cut Nyak Dien terus bergerilya dalam usia 50 tahun.
Setelah enam tahun lamanya Cut Nyak Dien dan pasukannya bergerilya, mereka tertangkap Belanda. Kemudian dibuang ke
Sumedang,
Jawa Barat dan meninggal 6 November 1908.