"Komunitas Penggiat Sejarah Perjuangan Bangsa dan Sahabat Para pejuang Indonesia"

" Selamat Datang di Website Komunitas Cinta Pejuang Indonesia (KCPI)"

Tampilkan postingan dengan label SEJARAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SEJARAH. Tampilkan semua postingan

Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

 


PINDAH IBUKOTA REPUBLIK INDONESIA dari Jakarta ke Yogyakarta Januari tahun 1946 atas kerelaan dan biaya sepenuhnya Sri Sultan Hamengkubuwono IX. 

Kraton Ngayogyokarto Hadningrat sepenuhnya mendukung Republik Indonesia Moriil maupun Materiil. Bung Karno dan Keluarga tinggal di Gedung Agung ex Kediaman Gubernur Djendral Belanda dan Bung Hatta tinggal di Kadipaten Pakualaman. 

Kala itu Kraton Yogyakarta sepenuhnya mendukung Pemerintahan Republik Indonesia! Kepatihan disekitar Malioboro pun menjadi Pusat Pemerintahan dan Sidang2 Kabinet pun diadakan disana. Sultan atas bantuan Haji Bilal menyediakan Perumahan Menteri di Taman Juwono Dagen dan daerah Sagan. 

Para menteri pun mendapat kendaraan Sepeda Raeligh buatan Inggris dari Kraton Yogyakarta. Kendaraan Presiden pun disediakan Kraton Yogya yaitu mobil sedan Buiqh sebagai mobil RI - 1. Keperluan Negara yang sedang berjuang kala itu, sepenuhnya di tanggung Keraton Yogyakarta. 

Ketika akhir tahun 1949, Pemerintah RI akan balik ke Jakarta Sri Sultan Hamengkubuwono IX masih nyangoni Bung Karno 6 Juta Gulden sambil berkata; " Bung hanya ini sisa yang bisa saya berikan untuk melanjut kan perjuangan Republik di Jakarta, semoga bermanfaat." Bung Karno pun terharu menitikan air mata sambil memeluk Sri Sultan : " Matur nuwun Ngarsodalem, Indonesia pasti merdeka!" 

Dalam kepemimpinannya ke depan Bung Karno  sangat hormat dan respek dengan Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan menganggap beliau sebagai Saudara tua yang berjasa bagi Indonesia. 

Bung Karno selalu menyebut Sri Sultan HBIX sebagai " NGARSADALEM SAMPEYAN DALEM INKANG SINUWWUN KANJENG SULTAN SENAPATI ING NGALAGA SAYIDIN PANATAGAMA KALIFATULLAH " , Kata Bung Karno: " Ingat Negeri Ngayogyakarto itu sudah ada, sebelum Indonesia ada dan di pimpin Ngarsodalem Hamengkubuwono IX, beliau saudara tua Indonesia!" Di ucapkan dalam sidang kabinet perpisahan sebelum republik kembali ke Jakarta, diceritakan oleh M Natsir menteri penerangan masa itu.

Share:

Frans Kaisiepo


Frans Kaisiepo adalah seorang pahlawan nasional yang memiliki peran penting dalam penyatuan Papua dengan Indonesia. 

Ia bahkan merupakan orang pertama yang mengibarkan bendera merah putih di Irian Barat dengan penuh kebanggaan.

Frans Kaisiepo lahir pada tanggal 10 Oktober 1921 di Biak, Papua. 

Ayahnya adalah seorang kepala suku Biak Numfor dan seorang pandai besi.

Ibunya meninggal ketika Frans masih berusia dua tahun. Frans pun kemudian dititipkan pada bibinya sehingga ia tumbuh besar dengan sepupunya, Markus.

Meskipun Frans besar di kampung Wardo yang terdapat di pedalaman Biak, tapi ia beruntung dapat menempuh pendidikan di sekolah dengan sistem pendidikan Belanda.

Pada tahun 1928–1931, Frans bersekolah di Sekolah Rakyat. Selulusnya dari sana, ia melanjutkan ke LVVS di Korido hingga tahun 1934 kemudian ke Sekolah Guru Normalis di Manokwari.

Setelah lulus, Frans Kaisiepo sempat mengikuti sebuah kursus kilat Sekolah Pamong Praja di Kota Nica, Hollandia (sekarang namanya Kampung Harapan Jaya) selama bulan Maret hingga Agustus 1945. 

Di sekolah tersebut, Frans diajar oleh Soegoro Atmoprasodjo, seorang guru dari jawa yang sangat dipercaya oleh Belanda tapi justru mengajarkan tentang nasionalisme pada murid-muridnya.

Soegoro Atmoprasodjo sendiri sebenarnya adalah aktivis dari Partai Indonesia (Partindo) dan pengajar di Taman Siswa bentukan Ki Hadjar Dewantara. 

Pada tahun 1935 ia dibuang ke Boven Digoel, Papua karena dituduh terlibat dalam pemberontakan terhadap Belanda. 

Pertemuan dengan Soegoro semakin menambah rasa cinta Frans Kaisiepo pada Indonesia. 

Dari Soegoro lah, Frans dan teman-teman di sekolah mengenal lagu Indonesia Raya, jauh sebelum gerakan Papua Merdeka muncul.

Pada tanggal 15 hingga 25 Juli 1946, sebuah konferensi yang bertujuan untuk membentuk negara-negara bagian di Indonesia dilaksanakan di Kota Malino, Sulawesi Selatan. 

Konferensi tersebut dikenal dengan nama Konferensi Malino.

Frans Kaisiepo ikut menghadiri konferensi tersebut sebagay wakil dari Papua. 

Pada konferensi tersebut, ia menentang keras niat Belanda yang ingin menggabungkan Papua dengan Maluku dan memasukkan Papua ke Negara Indonesia Timur (NIT). Pada akhirnya, Negara Indonesia Timur hanya terdiri dari Maluku, Sulawesi, Bali, dan Nusa Tenggara. Sementara Papua tidak jadi dimerdekakan. Wilayah itu tetap dalam cengkeraman kekuasaan Belanda dan diberi nama Hollandia.

Di konferensi yang sama, Frans juga mengusulkan supaya pemimpin Papua dipilih dari kalangan sendiri dan mengubah nama Papua menjadi Irian. 

Nama Irian itu berasal istilah dalam bahasa Biak yang memiliki arti panas.

Istilah Irian tersebut sering digunakan oleh para pelaut Biak yang harus menunggu panas matahari untuk dapat melaut. Penggunaan nama Irian sebagai pengganti Papua seolah mengharapkan kalau Irian  bisa menjadi cahaya penerang yang mengusir kegelapan di Indonesia. 

Pada akhirnya, nama Irian juga dibuat sebagai akronim oleh Presiden Soekarno dengan kepanjangan “Ikut Republik Indonesia Anti Netherlands.”

Namun usulan untuk mengganti nama dan menyatukan Irian dengan Indonesia itu tidak mendapatkan dukungan sama sekali baik dari pemerintah Indonesia ataupun Belanda. 

Sejak tahun 1946, tidak pernah ada perwakilan dari Papua untuk konferensi apa pun. Sebagai hukuman, Frans dikirim untuk bersekolah di Opleidingsschool voor Inheemsche Bestuursambtenaren (OSIBA) di Belanda.

Lima belas tahun berlalu sejak konferensi Malino, pada tahun 1961, Presiden Soekarno membentuk Komando Mandala untuk merencanakan, mempersiapkan, dan menyelenggarakan operasi militer untuk menggabungkan Papua dan Indonesia. 

Operasi militer tersebut diberi nama Trikora (Tri Komando Rakyat).

Ketika menyadari kalau tujuan Trikora itu sejalan dengan keinginannya untuk menyatukan Papua dengan Indonesia, Frans pun berusaha untuk memberikan bantuan sebisa mungkin.

Saat itu, Frans baru saja mendirikan sebuah partai politik bernama Irian Sebagian Indonesia (ISI). Melalui ISI, Frans Kaisiepo memberikan bantuan untuk sukarelawan Indonesia yang mendarat di Mimika.

Usahanya berhasil. Pada tahun 1964, gubernur Papua yang bernama Eliezer Jan Bonay diturunkan dari jabatannya dan ditahan oleh Pemerintah. 

Sebagai gantinya, Frans Kaisiepo diangkat menjadi gubernur Papua.

Selama menjabat sebagai gubernur, banyak peningkatan yang terjadi di Papua dibandingkan ketika dipimpin oleh pemerintah Belanda. Di antaranya adalah pertumbuhan penduduk dan tingkat pendidikan masyarakat yang meningkat.

Lima tahun kemudian, pada tahun 1969, di Papua Barat terdapat jajak pendapat untuk menentukan status daerah tersebut menjadi milik Indonesia atau Belanda. Jajak pendapat tersebut disebut Penentuan Pendapat Rakyat atau yang lebih banyak dikenal dengan istilah Pepera. 

Masing-masing daerah mengirimkan perwakilan untuk memberikan suara dan menentukan  status Papua. 

Saat itu, Frans Kaisiepo memiliki peran yang cukup penting.

Ia sering melakukan kampanye ke daerah-daerah, seperti Jayapura, Jayawijaya, Paniai, Fak-fak, Sorong, Manokwari, Teluk Cendrawasih, hingga ke Merauk dengan tujuan untuk berusaha meyakinkan para anggota dewan di daerah-daerah tersebut untuk memilih bergabung dengan Indonesia.

Tak berhenti sampai di sana, Frans Kaisiepo pun dipilih sebagai delegasi Indonesia untuk menyaksikan pengesahan hasil Pepera di markas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York.

Setelah pensiun sebagai gubernur Papua, Frans Kaisiepo diminta untuk pindah ke Jakarta oleh pemerintah Indonesia. 

Di ibukota lama Indonesia tersebut, ia diangkat menjadi pegawai di Kementerian Dalam Negeri dan anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Selain itu, ia juga diangkat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) untuk periode 1973–1979.

Frans wafat di Jakarta pada 10 April 1979 akibat serangan jantung setelah dirawat selama beberapa hari di sebuah rumah sakit di Jakarta. 

Kematian Frans diliputi misteri, saat itu Frans disebut-sebut tengah berusaha mengungkap kebenaran tentang adanya penipuan dalam pelaksanaan Pepera. 

Namun mendadak ia dikabarkan meninggal dunia. 

Meskipun begitu, tidak ada yang tahu dengan pasti apakah kematiannya itu normal atau ada yang membunuhnya.

Empat belas tahun berlalu, tepatnya pada tanggal 14 September 1993, Pemerintah Indonesia akhirnya mengakui jasa-jasanya untuk Indonesia.

Atas jasa-jasanya, Frans Kaisiepo dianugerahi penghargaan sebagai Pahlawan Nasional.

Selain itu, namanya juga diabadikan menjadi nama salah satu kapal perang TNI AL dan bandara internasional di Pulau Biak. 

Bahkan, pada tahun 2016, Bank Indonesia merilis uang baru nominal 10.000 dengan gambar Frans Kaisiepo di salah satu sisinya.

Demikianlah sosok Frans Kaisiepo, sang pengibar merah putih pertama di tanah papua.

Bagaimanapun juga, sudah sepantasnya kita semua berusaha mengenali dan menghormati setiap Pahlawan yang ada di Indonesia. 

Karena tanpa keberadaan para pahlawan ini, Indonesia tak akan menjadi negara yang merdeka seperti sekarang.

ket. foto:
inset 1: Maria Magdalena Moorwahyuni, Victor Kaisiepo, dan Frans Kaisiepo.
inset 2: Uang Republik Indonesia pecahan Rp 10.000 keluaran tahun 2016.

Komunitas Cinta Pejuang Indonesia (KCPI) bekerja 24 Jam sehari baik secara online maupun offline, Sejak tahun 2011 hingga hari ini. KCPI membutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk Kegiatan Sosial dan Operasional. Bantuan donasi anda dapat di kirim ke : No Rekening Bank BCA : 3452-157-362 a.n Heri Eriyadi Safitri (Founder KCPI)
 

Share:

Mengenal Bintang Kejora, Bendera Ciptaan Penjajah Belanda untuk Memecah Belah Indonesia


Mengenal Bintang Kejora, Bendera Ciptaan Penjajah Belanda untuk Memecah Belah Indonesia

Pada masa pendudukan Belanda bendera ini merupakan bendera klub sepak bola Belanda di Port Numbay sekarang Jayapura.

Bendera Bintang Kejora (BK) digunakan untuk wilayah Nugini Belanda dan dipakai dari 1 Desember 1961 hingga 1 Oktober 1962 ketika wilayah ini berada di bawah pemerintahan Otoritas Eksekutif Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNTEA).

Bendera Nugini Belanda adalah kombinasi warna Merah Putih Biru ditambah Bintang menyadur dari Warna Bendera Kerajaan Belanda. Kini, bendera ini biasanya digunakan oleh pendukung Organisasi Papua Merdeka (OPM).

Bendera ini terdiri dari sebuah pita vertikal merah di sepanjang sisi tiang, dengan bintang putih berujung lima di tengahnya. Pada masa pendudukan Belanda bendera ini merupakan bendera klub sepak bola Belanda di Port Numbay sekarang Jayapura.

Organisasi Papua Merdeka (OPM) selalu mengklaim bahwa Bendera Bintang Kejora adalah simbol kultural Orang Papua tentunya ini adalah pendapat yang sangat keliru, kenapa demikian?
  1. Bila di sebut sebagai simbol kultural Papua berati Budaya Papua baru di mulai tahun 1961, ini sangat mengecilkan arti Budaya Papua dan pelecehan terhadap Budaya Papua itu sendiri.
  2. Seni Budaya Papua yang diekspresikan dalam seni lukis dan seni ukir dalam literatur Papua bagi semua suku di seluruh pulau Papua tidak mengenal warna merah dan biru. Masyarakat Budaya Papua hanya mengenal warna putih, hitam dan coklat. Baik dalam ornamen ukiran dan patung, lukisan di atas kanvas kulit kayu maupun coret-coretan ditubuh saat tradisi, upacara maupun saat perang.
  3. Simbol religius Papua bagi seluruh suku Papua tidak mengenal lambang Bintang sebagai simbol Ketuhanan. Dan simbol Bintang tidak pernah digunakan dalam literatur Papua di media apapun, baik ukiran, lukisan maupun coretan tubuh. Tapi simbol religius papua banyak menggunakan pohon, binatang dan manusia itu sendiri.
  4. Kultural Papua baik dalam upacara adat, keagamaan maupun dalam peperangan tidak mengenal adanya Bendera. Bahkan sebelum tahun 1961 sedikit sekali orang Papua mengenal kain apalagi mengenal Bendera. Bahkan hingga sekarang masyarakat Papua belum bisa menenun atau membuat selembar kain pun.
  5. Faktanya bahwa bendera Bintang Kejora "bukan" di rancang oleh orang Papua.


 

Share:

MEMPERINGATI HARI KARTINI TANGGAL 21 APRIL 2021 oleh : Heri Eriyadi Safitri, S.Kom, MG, C.STMI (Founder KCPI)

 



MEMPERINGATI HARI KARTINI TANGGAL 21 APRIL 2021 oleh : Heri Eriyadi Safitri, S.Kom, MG, C.STMI (Founder KCPI)

Mengapa setiap 21 April, bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini? Apakah tidak ada wanita Indonesia lain yang lebih layak ditokohkan dan diteladani dibandingkan Kartini?

Pada dekade 1980-an, guru besar Universitas Indonesia, Prof. Dr. Harsya W. Bachtiar pernah menggugat masalah ini. Ia mengkritik pengkultusan R.A. Kartini sebagai pahlawan nasional Indonesia. Tahun 1988, masalah ini kembali menghangat,menjelang peringatan hari Kartini 21 April 1988. Ketika itu akan diterbitkanbuku Surat-Surat Kartini oleh F.G.P. Jacquet melalui penerbitan KoninklijkInstitut voor Tall-Landen Volkenkunde (KITLV).

Tulisan ini bukan untuk menggugat pribadi Kartini. Banyak nilai positif yang bisa kita ambil dari kehidupan seorang Kartini. Tapi, kita bicara tentang Indonesia,sebuah negara yang majemuk. Maka, sangatlah penting untuk mengajak kita berpikir tentang sejarah Indonesia. Sejarah sangatlah penting. Jangan sekali-kali melupakan sejarah, kata Bung Karno. Al-Quran banyak mengungkapkan betapa pentingnya sejarah, demi menatap dan menata masa depan.

Banyak pertanyaan yang bisa diajukan untuk sejarah Indonesia. Mengapa harus Boedi Oetomo, Mengapa bukan Sarekat Islam? Bukankah Sarekat Islam adalah organisasi nasional pertama? Mengapa harus Ki Hajar Dewantoro, Mengapa bukan KH Ahmad Dahlan, untuk menyebut tokoh pendidikan? Mengapa harus dilestarikan ungkapan ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani sebagai jargon pendidikan nasional Indonesia ? Bukankah katanya, kita berbahasa satu:Bahasa Indonesia? Tanyalah kepada semua guru dari Sabang sampai Merauke. Berapa orang yang paham makna slogan pendidikan nasional itu? Mengapa tidak diganti,misalnya, dengan ungkapan Iman, Ilmu, dan amal, sehingga semua orang Indonesia paham maknanya.

Kini, kita juga bisa bertanya, Mengapa harus Kartini? Ada baiknya, kita lihat sekilas asal-muasalnya. Kepopuleran Kartini tidak terlepas dari buku yang memuat surat-surat Kartini kepada sahabat-sahabat Eropanya, Door Duisternis tot Licht,yang oleh Armijn Pane diterjemahkan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang. Buku ini diterbitkan semasa era Politik Etis oleh Menteri Pengajaran, Ibadah, dan Kerajinan Hindia Belanda Mr. J.H. Abendanon tahun 1911. Buku ini dianggap sebagai grand idea yang layak menempatkan Kartini sebagai orang yang sangat berpikiran maju pada zamannya. Kata mereka, saat itu, tidak ada wanita yang berpikiran sekritis dan semaju itu.

Beberapa sejarawan sudah mengajukan bukti bahwa klaim semacam itu tidak tepat. Ada banyak wanita yang hidup sezamannya juga berpikiran sangat maju. Sebut saja Dewi Sartika di Bandung dan Rohana Kudus di Padang (terakhir pindah ke Medan).Dua wanita ini pikiran-pikirannya memang tidak sengaja dipublikasikan. Tapi yang mereka lakukan lebih dari yang dilakukan Kartini. Dewi Sartika (1884-1947) bukan hanya berwacana tentang pendidikan kaum wanita. Ia bahkan berhasil mendirikan sekolah yang belakangan dinamakan Sakola Kautamaan Istri (1910) yang berdiri di berbagai tempat di Bandung dan luar Bandung. Rohana Kudus (1884-1972) melakukan hal yang sama di kampung halamannya. Selain mendirikan Sekolah Kerajinan Amai Setia (1911) dan Rohana School (1916), RohanaKudus bahkan menjadi jurnalis sejak di Koto Gadang sampai saat ia mengungsi ke Medan. Ia tercatat sebagai jurnalis wanita pertama di negeri ini.

Kalau Kartini hanya menyampaikan Sartika dan Rohana dalam surat, mereka sudah lebihjauh melangkah: mewujudkan ide-ide dalam tindakan nyata. Jika Kartini dikenalkan oleh Abendanon yang ber inisiatif menerbitkan surat-suratnya, Rohana menyebarkan idenya secara langsung melalui koran-koran yang ia terbitkan sendiri sejak dari Sunting Melayu (Koto Gadang, 1912), Wanita Bergerak (Padang), Radio(padang), hingga Cahaya Sumatera (Medan).

Kalau saja ada yang sempat menerbitkan pikiran pikiran Rohana dalam berbagai suratkabar itu, apa yang dipikirkan Rohana jauh lebih hebat dari yang dipikirkanKartini. Bahkan kalau melirik kisah-kisah Cut Nyak Dien, Tengku Fakinah, Cut Mutia,Pecut Baren, cut Meurah Intan, dan Cutpo Fa -timah dari Aceh, klaim-klaim keterbelakangan kaum wanita di negeri pada masa Kartini hidup ini harus segera digugurkan. Mereka adalah wanita-wanita hebat yang turut berjuang mempertahankan kemerdekaan Aceh dari serangan Belanda. Tengku Fakinah, selain ikut berperang juga adalah seorang ulama-wanita.

Di Aceh kisah wanita ikut berperang atau menjadi pemimpin pasukan perang bukan sesuatu yang aneh. Bahkan jauh-jauh hari sebelum era Cut Nyak Dien dan sebelum Belanda datang ke Indonesia, Kerajaan Aceh sudah memiliki Panglima Angkatan Laut wanita pertama, yakni Malahayati. Aceh juga pernah dipimpin oleh Sultanah (sultan wanita) selama empat periode (1641-1699). Posisi sulthanah dan panglima jelas bukan posisi rendahan

Jadi,ada baiknya bangsa Indonesia bisa berpikir lebih jernih: Mengapa Kartini?Mengapa bukan Rohana Kudus? Mengapa bukan Cut Nyak Dien? Mengapa Abendanon memilih Kartini? Dan mengapa kemudian bangsa Indonesia juga mengikuti kebijakan itu? Cut Nyak Dien tidak pernah mau tunduk kepada Belanda. Ia tidak pernah menyerah dan berhenti menentang penjajahan Belanda atas negeri ini.

Meskipun aktif berkiprah di tengah masyarakat, Rohana Kudus juga memiliki visi keislaman yang tegas. Perputaran zaman tidak akan pernah membuat wanita menyamai laki-laki. Wanita tetaplah wanita dengan segala kemampuan dan kewajibannya.Yang harus berubah adalah wanita harus mendapat pendidikan dan perlakukanyang lebih baik. Wanita harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah yang kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan, begitu kata Rohana Kudus.

Bayangkan, jika sejak dulu anak-anak kita bernyanyi: Ibu kita Cut Nyak Dien. Putri sejati.Putri Indonesia..., mungkin tidak pernah muncul masalah Gerakan Aceh Merdeka.Tapi, kita bukan meratapi sejarah, Ini takdir. Hanya, kita diwajibkan berjuang untuk menyongsong takdir yang lebih baik di masa depan. Dan itu bisa dimulai dengan bertanya, secara serius: Mengapa Harus Kartini?

Share:

Kenapa orang indonesia menyebut Netherland adalah Belanda?


Ada banyak sekali teori tentang kenapa orang Indonesia menyebut Netherland dengan nama Belanda.

Pertama, ada yang meyakini bahwa kita mengambil kata blonde (pirang) dari bahasa Inggris. Sementara seperti kita ketahui banyak orang Belanda yang menjajah Indonesia berambut pirang. Ini kemudian diadaptasi oleh orang Jawa menjadi kata londo . Sebagaimana kita ketahui, orang Jawa pada masa lalu memiliki kebiasaan menyesuaikan lafal dengan kemampuan maksimalnya. Dari situlah kita menyebut Netherland menjadi Belanda. Sebagai perbandingan, suku-suku Aborigin Australia, hingga detik ini menyebut orang kulit putih Eropa dengan kata Balanda, diyakini karena pengaruh pelaut-pelaut Indonesia yang sudah kontak dengan mereka jauh sebelum James Cook mengaku-ngaku menemukan benua itu pada Abad ke-17.

Kedua, ada yang berpendapat kata
Belandadidapat karena nama Belanda dalam bahasa Inggris lebih dikenal dengan sebutan Holland. Holland sebenarnya adalah nama salah satu provinsi di Belanda, tapi namanya menjadi dominan karena orang-orang dari Holland relatif lebih maju daripada orang-orang Belanda dari provinsi lainnya. Orang-orangnya disebut Hollander. Dalam lafal orang Indonesia, istilah inilah yang kemudian diyakini berubah menjadi Belanda.

Pendapat ketiga menyatakan bahwa istilah Belanda di Indonesia muncul dari peristiwa Mudzakrah ulama se-rumpun Melayu tahun 1650 M di Pagaralam, Palembang. Dalam acara tersebut, muncul kesadaran para ulama untuk memperkuat persatuan suku-suku Melayu agar tidak jatuh dalam hasutan bangsa-bangsa Eropa yang berdatangan dan suka memecah belah. Muncullah frasa belah nde (belah = memecah, nde = keluarga), yang kemudian berkontraksi menjadi Belande, lalu berubah menjadi Belanda.

Hipotesis yang keempat, terakhir, meyakini bahwa kata Belanda dalam bahasa Indonesia berasal dari nama Belanda dalam bahasa Portugis dan Spanyol, yaitu Holanda. Sebagaimana kita ketahui, orang-orang Portugis sudah datang ke Indonesia, jauh sebelum rombongan Belanda pertama di bawah pimpinan Cornelis de Houtman datang kemari. Dari istilah Holanda dalam bahasa Portugis itu, beberapa suku di Indonesia menyebut Wolanda. Sementara dalam adaptasi lidah orang Sunda, nama itu disebut
Walanda (hingga detik ini dalam bahasa Sunda moderen). Akhirnya, muncullah lafal yang fix sampai sekarang: Belanda dalam bahasa Indonesia moderen.

Teori manakah yang paling tepat? Saya sendiri tidak tahu dan tidak bisa memastikannya. Mungkin semuanya memang benar.
Share:

ROMUSHA ZAMAN JEPANG


Pada masa penjajahan Belanda kita mengenal istilah kerja Rodi, yaitu kerja paksa yang diterapkan oleh  Belanda saat menjajah Indonesia. Pada kesempatan ini kita akan bahas tentang Kerja Paksa Pada Zaman Jepang, Kerja Paksa Jepang, arti Romusha, dan Pengertian Romusha.

Pengertian dan Arti Romusha
Untuk mendukung dan menjalankan Imperialisme Jepang, yaitu Kesemakmuran Asia Timur Raya. Maka Jepang butuh dana besar untuk membiayai perang, baik itu Perang Dunia II maupun perang memperjuangkan Imperialisme-nya.

Tidak lain, dan tidak bukan adalah Kesemakmuran Asia Timur Raya. Jepang juga membutuhkan bantuan tenaga untuk membangun sarana pendukung perang, antara lain kubu pertahanan, jalan raya, rel kereta api, jembatan, dan lapangan udara.

Oleh karena itu, Jepang membutuhkan banyak tenaga kerja. Pengerahan tenaga kerja itu disebut romusha. Jika dirincikan maka pengertian romusha terbagi menjadi dua, yaitu:

Pengertian Romusha secara Bahasa, Romusha berarti Buruh, Pekerja.
Pengertian Romusha secara Istilah, Romusha berarti panggilan bagi orang-orang Indonesia yang dipekerjakan secara paksa pada masa pendudukan Jepang di Indonesia mulai tahun 1942 sampai 1945.
Pada mulanya, pelaksanaan romusha didukung rakyat. Rakyat Indonesia masih termakan propaganda Jepang untuk membangun keluarga besar Asia.

Tenaga-tenaga romusha ini kebanyakan diambil dari desa-desa, umumnya orang-orang yang tidak bersekolah atau paling tinggi tamat Sekolah Dasar. Semula program romusha bersifat sukarela dan sementara.

Akan tetapi, setelah kebutuhan mendesak, pengerahan tenaga kerja berubah menjadi paksaan. Ribuan tenaga kerja romusha dikirim ke luar Jawa, bahkan ke luar negeri, seperti Burma, Malaysia, Thailand, dan Indo-Cina. Dalam leteratur lain menyebutkan jumlah Romusha di Indonesia mencapai 4 sampai 10 juta.

Tenaga kerja romusha ini diperlakukan dengan sangat buruk, sehingga banyak di antara mereka
yang meninggal dunia. Pengerahan tenaga kerja tersebut telah membawa akibat dalam struktur sosial di Indonesia.

Banyak pemuda tani yang menghilang dari desanya karena mereka takut dikirim sebagai romusha. Para romusha yang selamat kemudian kembali ke desa mereka. Mereka ini memiliki banyak pengalaman di berbagai bidang.

Mereka datang membawa gagasan-gagasan baru sehingga desanya terbuka untuk perubahan.
Share:

Yang Sakit itu Soedirman…PANGLIMA BESAR Tidak Pernah Sakit….!


Belanda ingin menghapus Republik Indonesia dari peta dunia.....dan berkuasa kembali di tanah jajahannya.  Tujuan utama mereka menangkap Presiden RI Soekarno dan wakilnya Mohammad Hatta.....membubarkan pemerintahan dan menghancurkan TNI.

19 Desember 1948....
dalam waktu singkat pasukan Belanda berhasil menguasai Kota Yogyakarta.....

Menit2  saat negara genting akibat serangan Belanda.... Panglima TNI Jenderal Soedirman menemui Presiden Soekarno. Soedirman menghadap dalam balutan mantel dan sandal.... Sudah berminggu2  panglima tentara ini tidak bisa bangun karena sakit.

Soedirman meminta Soekarno ikut gerilya...sementara Soekarno bersikeras tetap tinggal.... untuk selanjutnya berjuang melalui jalan diplomasi.

Soedirman berpendapat Belanda sudah ingkar janji.... tak ada gunanya diplomasi. 
Sementara Soekarno yakin hanya dengan jalan diplomasi Indonesia bisa mendapat dukungan internasional....guna menekan Belanda. 
Keduanya teguh pada pendapat masing2.....

Soal perbedaan sikap dan siasat ini wajar terjadi.....antara pemimpin sipil dan militer.

Menurut saya... apa yang dilakukan Soedirman bukanlah sebuah pembangkangan militer pada presiden.....Lagipula jika Soekarno ikut bergerilya justru akan mempersulit peperangan....

Soekarno pun bisa kita yakini tak sanggup hidup dalam medan gerilya....dan sangat mengandalkan diplomasi.  Jika Soekarno ikut gerilya..... gempuran militer Belanda di bawah Jenderal Spoor akan lebih gila kerasnya. 

Spoor begitu ingin Soekarno tewas dalam serangan......

Cindy Adams dalam biografinya Soekarno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia....menulis  dialog antara Bung Karno dengan Panglima Besar TNI Jenderal Soedirman....saat detik-detik agresi militer Belanda tanggal 19 Desember 1948 di Yogyakarta.

Dua jam sebelum pendaratan pasukan Belanda....Panglima Besar TNI Jenderal Soedirman.....yang masih berumur 32 tahun....membangunkan Bung Karno.

Setelah menyampaikan informasi yang diterimanya terlebih dahulu..... Soedirman mendesak Bung Karno ikut dengan dia ke hutan....

Tak berselang lama Bung Karno berkata....“Dirman.... engkau seorang prajurit. Tempatmu di medan pertempuran dengan anak buahmu....Dan tempatmu bukanlah pelarian bagi saya..... Saya harus tinggal di sini.....mungkin bisa berunding untuk kita dan memimpin rakyat kita semua," kata Bung Karno ketika itu.

“Kemungkinan Belanda mempertaruhkan kepala Bung Karno.....Jika Bung Karno tetap tinggal di sini....
Belanda mungkin menembak saya. Dalam kedua hal ini....saya menghadapi kematian,...
tapi jangan kuatir. 
Saya tidak takut....Anak2 kita menguburkan tentara Belanda yang mati....Kita perang dengan cara yang beradab....
akan tetapi …”

Soedirman mengepalkan tinjunya.....
” Kami akan peringatkan kepada Belanda....kalau Belanda menyakiti Soekarno......
bagi mereka tak ada ampun lagi. Belanda akan mengalami pembunuhan besar2 an.”

Soedirman melangkah ke luar dan dengan cemas melihat udara....
Ia masih belum melihat tanda2.....
“Apakah ada instruksi terakhir sebelum saya berangkat...???” kata dia.

“Ya....
jangan adakan pertempuran di jalanan dalam kota.... Kita tidak mungkin menang. 
Akan tetapi pindahkanlah tentaramu ke luar kota Dirman....dan berjuanglah sampai mati.
Saya perintahkan kepadamu untuk menyebarkan tentara ke desa2.... Isilah seluruh ngarai dan bukit....
Tempatkan anak buahmu di setiap semak belukar.....Ini adalah perang gerilya semesta”.

“Sekali pun kita harus kembali pada cara amputasi tanpa obat bius.....dan mempergunakan daun pisang sebagai perban.....
namun jangan biarkan dunia berkata bahwa.....kemerdekaan kita dihadiahkan dari dalam tas seorang diplomat. 
Perlihatkan kepada dunia bahwa..... kita membeli kemerdekaan itu dengan mahal......
dengan darah...
keringat dan tekad yang tak kunjung padam..." kata pak Karno..

“Dan jangan ke luar dari lembah  dan bukit.... hingga Presidenmu memerintahkannya.
Ingatlah.....
sekali pun para pemimpin tertangkap..... orang yang di bawahnya harus menggantikannya....
baik ia militer maupun sipil. 
Dan Indonesia tidak akan menyerah!”.

Sebelumnya....
Presiden Sukarno menyarankan agar Jenderal Soedirman menjalani perawatan saja.....karena penyakit Soedirman pada waktu itu tergolong parah....

“Yang sakit itu Soedirman…panglima besar tidak pernah sakit….” Itu jawaban sang Jenderal.

Sementara itu Belanda sudah menguasai Lapangan Udara Maguwo.....
Sekitar pukul 11.00 WIB...pasukan baret hijau Belanda bergerak memasuki kota. 
Tujuan mereka menangkap Soekarno-Hatta dan para pejabat RI lain.

Tak butuh waktu lama untuk mencapai Istana Negara.....
Pertahanan TNI yang tersisa terlalu lemah untuk menghentikan gerak maju pasukan komando Belanda pimpinan Letkol Van Beek....

Setelah melumpuhkan pengawal presiden....baret hijau Belanda mengepung istana. 
Soekarno keluar menemui pasukan penyerang itu.....Overste Van Beek memberi hormat.

"U staat onder huisarrest." Artinya anda sekarang menjadi tahanan rumah.....
Saat itu tentara Belanda juga menahan Mohammad Hatta....dan hampir seluruh menteri RI.

Belanda merasa menang saat itu.....
Mereka mengira sudah melumpuhkan pemerintahan Indonesia. 
Tapi mereka tak berhasil menangkap Jenderal Soedirman....
Sebelumnya Kolonel Van Langen mengira Soedirman masih berkumpul di istana.....bersama Soekarno dan pejabat lain....

Ternyata saat pasukan baret hijau mengepung Istana.....Soedirman telah berangkat untuk memulai perang gerilya. 
Jenderal yang sakit2 tan itu pantang menyerah......
Soedirman menolak permintaan Soekarno untuk bersembunyi di dalam kota dan menunggu sakitnya sembuh. 
Dengan paru-paru hanya sebelah.....Soedirman menunjukkan tekadnya sebagai panglima pemimpin pasukan.

Pada Soedirman republik yang masih muda ini berharap.....Soedirman tak kenal kata menyerah. 
Dari atas tandu dia membuat pasukan lawan frustasi......Soedirman berjuang hingga Belanda terusir dari Indonesia selamanya.
Share:

JENDERAL KOHLER Tertembak di depan Masjid Raya Baiturrahman BANDA ACEH

Jenderal Kohler roboh di areal masjid tersebut. Seorang Pejuang Atjeh dengan posisi merunduk melepaskan tembakan dari jarak 100 meter dan mengenai jantung sang jenderal. Siapakah dia......?

Pada Tanggal 26 Maret 1873, Belanda mengeluarkan maklumat perang terhadap Aceh. Perang ini merupakan perang terlama dan paling melelahkan yang pernah dilakoni oleh Belanda.

Dimulai agresi Belanda pertama terhadap Aceh tahun 26 Maret 1873, Pasukan Belanda yang dipimpin oleh Jenderal Kohler berhasil mendarat di pantai Ulee Lheu setelah mematahkan pertahanan pantai Kesultanan Aceh.

Pasukan Belanda kemudian bergerak menuju pusat ibu kota kerajaan, Kutaradja (Banda Aceh saat ini-red). Kedatangan Belanda ini mendapat perlawanan sengit dari pejuang Aceh.

Namun karena persenjataan Belanda yang lengkap membuat pejuang Aceh terpaksa mundur, dan Belanda berhasil menguasai Masjid Raya Baiturrahman. Beberapa sumber disebutkan, saat itu pasukan ekspedisi Belanda berkekuatan 5.000 orang.
dikutip dari sebuah sumber pada tanggal 14 April 1873, ketika Jenderal Kohler sedang menginspeksi pasukan Belanda di areal mesjid tersebut, tiba-tiba seorang pejuang Aceh dengan posisi merunduk melepaskan tembakan dari jarak 100 meter dan mengenai jantung sang jenderal.

Kohler roboh di bawah pohon Geulumpang atau kelumpang yang tumbuh di halaman Mesjid Raya Baiturrahman. Pohon tersebut oleh pihak Belanda dinamakan Kohlerboom atau pohon Kohler.
Pelaku penembakan Kohler diketahui seorang remaja Laskar Aceh berusia 19 tahun yang bersembunyi di reruntuhan masjid.
Peristiwa tersebut tentu mengejutkan pasukan Belanda dan beritanya tersebar luas keseluruh dunia, terutama Eropa pada waktu itu.
Sementara menurut kisah sang pahlawan atau sniper penembak jenderal Kohler tersebut gugur ditembak pasukan Belanda beberapa saat setelah kejadian.

*****
MISTERI siapa nama penembak Kohler hingga kini masih tersimpan erat. Namun menurut Teuku Nukman, 68 tahun, cucu Imum Lueng Bata, yang pernah diwawancarai beberapa waktu lalu, sang penembak jitu tersebut bernama Teungku Imum Lueng Bata.
“Banyak orang dan juga media tidak menuliskan siapa sebenarnya penembak misterius Jenderal Kohler,” ujarnya.
Teungku Imum Lueng Bata merupakan pemimpin Kemukiman Lueng Bata. Pemimpin tersebut bernama asli "Teuku Nyak Radja". Ia anak Teungku Chik Lueng Bata. Dulunya Lueng Bata daerah bebas dan berada langsung di bawah kesultanan.

Nukman menduga karena saat itu suasana tidak kondusif, para pengikut sepakat melindungi pimpinannya. “Maka, penembak Kohler juga dirahasiakan. Lagi pula namanya juga sniper, kan pastinya sifatnya rahasia,” ujar Nukman.
Jarak Imum Lueng Bata dengan Kohler, kata Nukman, sekitar 100 meter. Ia menilai hanya senjata seadanya yang dipakai Lueng Bata untuk menembak. Teuku Njak Radja hanya melepaskan satu tembakan dan tepat mengenai lensa keker Kohler. Peluru tembus ke dada dan Kohler meregang sembari berkata :
“Oh God ik ben getroffen (Oh Tuhan Aku Kena)”.

Yang tidak diketahui Nukman hingga sekarang adalah tempat Imum Lueng Bata dikubur.......?

Referensi sejarah :
  • Menyebutkan Imum Lueng Bata meninggal dalam pengejaran tentara Belanda, tetapi tak jelas lokasinya.
  • Ada yang mengatakan Beliau Meninggal di Geulumpang Minyeuk, Pidie.
Hanya Allah yang tahu artinya mengapa beliau tidak diketahui makamnya. Mungkin agar beliau tetap terlindungi dari pengejaran Belanda saat itu,” ujar Nukman.
Share:

BENTENG PENDAM CILACAP


Benteng Pendem Cilacap
====================

Dalam bahasa Belanda, benteng ini bernama Kustbatterij op de Landtong te Cilacap yang artinya ‘tempat pertahanan pesisir di atas tanah yang menjorok ke laut’. Bangunan peninggalan Belanda itu juga bersebelahan dengan penampungan minyak Pertamina Unit Pengolahan IV Cilacap Area 70.

Benteng ini didirikan secara bertahap sejak 1861 hingga 1879 di atas tanah seluas 10,5 hektar oleh arsitek Belanda. Benteng yang bergaya Eropa dan dibangun di bawah tanah ini membuat warga setempat memanggilnya dengan sebutan Benteng Pendem. Benteng ini juga merupakan tiruan dari bangunan Benteng Rhijnauwen, yang merupakan benteng terbesar di Belanda.

Oleh pihak Belanda, Cilacap dianggap strategis untuk pendaratan dan terlindung Pulau Nusakambangan, Itulah sebabnya, Benteng Pendem didirikan sebagai markas pertahanan tentara Belanda, untuk pertahanan Pantai Selatan Pulau Jawa. Pada 1942 benteng ini sempat direbut oleh pasukan Jepang, lalu pasukan Belanda kembali merebut benteng pada akhir 1945 hingga 1950. Dua tahun ditinggalkan, pada akhir 1952 sampai 1965, Benteng Pendem dijadikan markas bagi para Tentara Nasional Indonesia (TNI) sebagai tempat latihan.

Pada 1965 hingga 1986, area benteng tak terurus dan terbengkalai. Bahkan, benteng ini sempat tak terlihat karena bangunannya terpendam tanah pesisir pantai Teluk Penyu. Hampir seluruh bangunan benteng tenggelam hingga sedalam 3 meter di bawah permukaan tanah.

Oleh pemerintah areal benteng seluas 4 hektar dimanfaatkan, alhasil kini tinggal tersisa 6,5 hektar. Areal 70 merupakan sebutan dari areal yang di dalamnya terdapat dermaga kapal, tangki minyak, serta kantor. Adi Wardoyo, seorang warga setempat berinisiatif untuk melakukan penggalian dan pemugaran area benteng. Pemugaraan dan penataan ulang tersebut membuat Benteng Pendem resmi dibuka pada 1987 sebagai salah satu destinasi wisata Cilacap hingga kini.

Gapura yang dibuat pemerintah setempat terlihat seperti bentuk benteng yang berada di dalam areal Benteng Pendem. Meski telah berusia ratusan tahun, sebagian besar bangunan benteng yang terbuat dari bahan baku bata merah tanpa beton itu masih terlihat gagah berdiri.

Ketika memasuki areal benteng, pengunjung akan menemukan jembatan beton dengan lebar kurang lebih satu meter di atas parit pertahanan. Biasanya, terdapat beberapa anak yang berenang bersama. Ketika pengunjung melewati jembatan, anak-anak tersebut kerap meminta dilempari uang koin, dan mereka akan menyelam ke dasar parit saling merebut uang koin yang dilempari.

Areal Benteng Pendem terdiri dari beberapa bangunan dan ruangan yang masih kokoh hingga sekarang. Ruangan-ruangan tersebut terdiri atas ruang barak barak, benteng pertahanan, benteng pengintai, ruang rapat, gudang senjata, gudang mesiu, klinik pengobatan, dapur ruang perwira, ruang amunisi dan  peluru, serta penjara. Namun demikian, sejak awal ditemukan, banyak ruangan di areal benteng yang tidak diketahui sepenuhnya. Selain itu, ada yang menyebutkan bahwa di dalam Benteng Pendem ada sebuah terowongan rahasia bawah laut menuju benteng-benteng lainnya dan menuju goa-goa yang ada di pulau Nusakambangan. Konon, terowongan tersebut tertutup tanah dan genangan air laut karena banyak dindingnya yang bocor.

Tidak hanya penuh sejarah, Benteng Pendem juga penuh dengan kisah mistis sehingga banyak dijadikan tempat untuk uji nyali penduduk sekitar, dan disorot berbagai acara televisi nasional. Bagaimana tidak. Banyak ruangan dalam Benteng Pendem yang hanya dapat dimasuki oleh sedikit cahaya. Bahkan sampai saat ini, masih ada sebagian bangunan benteng yang belum tergali. Penjara yang berukuran 4x3 meter dan hanya terdapat satu jendela dilengkapi teralis berlapis juga menambah nuansa seram jika membayangkan kejadian pada masa penjajahan bertahun-tahun silam.

Mengelilingi area Benteng Pendem tidak begitu melelahkan, karena terdapat beberapa saung dan tempat duduk untuk pengunjung beristirahat. Bukan hanya untuk mempelajari sejarah, Benteng Pendem pun dapat dikunjungi keluarga untuk sekadar bersantai dan piknik, karena arealnya cukup luas. Sekitar benteng pun terdapat 40 rusa jinak yang dibiarkan hidup, biasanya rusa-rusa berkumpul di sisi selatan benteng, lebih tepatnya di gundukan tanah depan ruang penjara
Share:

PASUKAN SANTRI PEJUANG


Pemuda Moenasir Ali lahir di desa Modopuro, Mojosari, Mojokerto pada 2 Maret 1919 dari seorang ayah bernama H. Ali yang merupakan seorang kepala desa yang dihormati di daerahnya. Sejak memasuki usia sekolah karena kedudukan ortunya yang terpandang Moenasir muda dapat mengenyam pendidikan formal yang lumayan di MULO Jombang, tidak lupa untuk menyeimbangkan pengetahuannya dalam hal agama, ia juga turut dipondokkan di pondok pesantren Tebu Ireng, hal tersebut menjadikan Moenasir muda akrab dan dekat dengan Kyai Hasyim Asy'ari dan menjadi salah satu santri kesayangan beliau.

Pada era Pendudukan Jepang, Moenasir muda turut dalam pelatihan santri di Cibarusah dengan instruktur dari pasukan Jepang yang membekali dirinya dengan dasar-dasar ilmu kemiliteran, taktik gerilya dan peningkatan semangat "Seishin/cinta kepada tanah air". Selesai dari pendidikan dia kembali ke Jombang dan Mojokerto untuk menularkan dan berbagi ilmu yang didapat kepada para santri dan membentuk cikal bakal barisan pemuda Hizbullah cabang Mojokerto.

Awal perang kemerdekaan, Moenasir muda ditunjuk sebagai komandan laskar Hizbullah Mojokerto dan aktif berjuang di banyak front terutama Surabaya, Jombang dan perbatasan Mojokerto, laskar Hizbullah Mojokerto merupakan salah satu pasukan yang tergabung dalam wadah Hizbullah Divisi Sunan Ampel. Pada tanggal 5 Mei 1947, pemerintah menyatukan Tentara Republik Indonesia (TRI) dengan badan-badan kelaskaran. Kemudian, pada 3 Juni 1947, pemerintah mengesahkan berdirinya  Tentara Nasional Indonesia (TNI) sebagai satu-satunya wadah perjuangan bersenjata bagi Republik Indonesia. 

Hizbullah Divisi Sunan Ampel dikecilkan menjadi Resimen 293 dengan komandan Letkol A Wahib Wahab dan Mansur Sholichy sebagai kepala staf. Setelah mengalami perubahan status yang mendasar, secara perlahan-lahan anggota Hizbullah dapat menyesuaikan diri menjadi pejuang profesional, dan semangat juangnya tetap menyala. Terhadap kesediaan Hizbullah meleburkan diri kedalam TNI, Panglima Besar Jenderal Sudirman mengatakan bahwa itu merupakan  bukti Hizbullah adalah kelaskaran yang mementingkan derajat negara dari pada golongan sendiri, serta wujud kepatuhan dan ketundukan kepada komando dan perintah atasan. Untuk melaksanakan keputusan itu, pada bulan Mei 1948, TNI Resimen 293 diperkecil menjadi 2 batalyon, yaitu  Batalyon Mobil (Mobile Troep) dengan sebutan Yon Mansur Solichy, yang kemudian menjadi Batalyon 42 Diponegoro dan  Batalyon Teritorial (Territorial Troep) dengan sebutan Yon Moenasir/Munasir, yang kemudian menjadi Batalyon 39 dengan. 

Selama perang kemerdekaan Bn 39 dikenal sebagai batalyon gerilya TNI yang anggotanya berasal dari eks laskar Hizbullah dan Sabililah dengan wilayah operasi nya meliputi Mojokerto, Jombang dan Tuban, selain itu pada waktu memadamkan pemberontakan PKI Madiun Yon Munasir bertugas untuk menguasai kota Jombang dan bersama-sama Yon Mansur Solichy membantu mengamankan jalur Bojonegoro - Cepu dari gangguan Laskar Minyak. pada saat Agresi Militer Belanda ke II pasukan Hizbullah Yon Mansur Solichy dan Yon Munasir bergerilya untuk merebut kembali kota Surabaya. Mereka berjuang bersama kesatuan dari Batalyon lain atas perintah Gubenur Militer Jawa Timur Panglima Divisi I Kolonel Sungkono, yang bersatu dalam “Komando Operasi Hayam Wuruk.”
 
Operasi Hayam Wuruk dipimpin Mayor Pamu Rahardjo, dengan kesatuan-kesatuan pendukung Batalyon Bambang Yuwono (Yon BY), Batalyon Mansur Solichy (Yon M) Batalyon Isa Idris (Yon I), Batalyon Tjipto (Yon T) dan Batalyon Mobrig. Mereka dibantu pasukan Yon Munasir yang dipimpin Kapten Syakir Husein. Dalam melakukan gerilya kali ini, Yon Munasir dipecah menjadi dua bagian. Sebagian mengikuti  Komando Operasi Hayam Wuruk, dan sebagian besar terdiri atas Kompi Hasyim Latif, Kompi Muhammad Mustofa Kamal, dan Kompi Farchan Achmadi bertugas di Jombang.
 
Pada bulan Pebruari 1949, Yon Munasir mendapat tugas di sektor utara Jalan Mojokerto-Kertosono. Mereka menyusun markas komando di Peterongan, Jombang. Dengan demikian, sejak Maret 1949 wilayah utara daerah Kertosono -Mojokerto menjadi daerah basis konsolidasi dan basis gerilya Yon Munasir. Sejak saat itu nama Batalyon Munasir diberi nama Batalyon Condromowo. Yang mengusulkan nama ini adalah Dan Yon Mayor Munasir sendiri.
 
Nopember 1949, ketika terjadi gencatan senjata, Brigade 16 melakukan penertiban administrasi. Semua anggota Yon Condromowo mendapat nomor register bernomor depan 113.  Setelah  terjadi penyerahan kedaulatan dari pemerintah Belanda kepada Pemerintah RI pada 31 Desember 1949, Yon Condromowo mengambil alih kekuasaan di daerah Jombang. Yon Diponegoro yang dipimpin Mayor Mansur Solichy mengambil alih kekuasaan di Mojokerto. Tidak lama berselang, Yon 42 Diponegoro dipindahkan ke Tanjung Karang (Lampung) untuk keamanan wilayah Mojokerto diserahkan kepada  Yon 39 Condromowo.

Agustus 1950, seluruh anggota Yon 39 Condromowo ditugaskan menjaga keamanan di daerah Karesidenan Bojonegoro, dengan markas batalyon di Tuban. Setelah memasuki masa damai, TNI terus melakukan konsolidasi. Yon 39 Condromowo berubah menjadi Yon 519 Resimen 17 Territorial V Brawijaya. Selain itu, juga terjadi penurunan pangkat setingkat, sehingga Dan Yon Mayor Munasir menjadi Kapten. para  Komandan Kompi yang semula berpangkat  Lettu menjadi Letda. Yang mengenaskan, semua Prajurit Satu yang telah bertempur bertahun-tahun turun menjadi Prajurit Dua.

Setelah sekitar satu setengah tahun bertugas di Karesidenan Bojonegoro,  anggota Yon 519 ditarik ke asrama TNI AD di Gunungsari, Surabaya. Bersamaan dengan berakhirnya masa ikatan dinas pertama pada tanggal 31 Maret 1953, beberapa batalyon digabungkan dan Yon 519 dilikuidasi. Sehubungan dengan hal tersebut, sebagian anggota Yon 519 menyatakan tidak melanjutkan ikatan dinas dan meninggalkan kesatuan, termasuk diantaranya Mayor Munasir beberapa komandan kompi bersama sekitar 20% dari jumlah total anggota, untuk anggota yang memutuskan tetap melanjutkan ikatan dinas dipecah-pecah dan bergabung ke beberapa batalyon,  sebagian besar masuk Yon  F dan Yon G Brigade I.

Pensiun dari dinas ketentaraan, Munasir kemudian pindah ke Jakarta dan aktif di IKABEPI (Ikatan Bekas Pedjoeang Indonesia) bersama antara lain, KH Wahib Wahab. Beliau ikut mendirikan Legiun Veteran bersama antara lain, Chairul Saleh, Letjen Sarbini, dan Letjen A. Kartakusuma. Tahun 1958 pernah menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Legiun Veteran RI.

Tahun 1958, Munasir dilantik pula menjadi anggota Dewan Nasional. Tahun 1959, Munasir menjadi anggota Depernas (Dewan Perancang Pembangunan Nasional). Di bidang legislatif, Munasir pernah duduk sebagai anggota DPR periode 1967-1987. Sedangkan di bidang organisasi pertanian, pernah menjabat salah satu ketua HKTI (Himpunan Kerukunan Tani Indonesia) di bawah pimpinan Martono.

Di lingkungan PBNU, Munasir pernah menjabat sebagai ketua Pertanu (Pertanian NU), Pengurus Pemuda Ansor, Sekjen PBNU, Syuriah PB NU dan Mustasyar PB NU, serta sebagai salah satu tokoh yang turut berperan dalam mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). .

Sebagai salah satu kyai sesepuh NU, beliau memiliki pesan dan jargon terkenal "NEGARA INI BISA KUAT, KARENA EMPAT HAL, PEMERINTAHANNYA ADIL, ULAMANYA BAIK, ORANG KAYA YANG DERMAWAN, DAN YANG MISKIN SELALU BERDOA UNTUK KEBAIKAN NEGARA".

KH. Munasir Ali meninggal pada hari Jumat, 11 Januari 2002 dalam usia 83 tahun di RS Pelni Petamburan Jakarta, pukul 23.15. Kiai Munasir dikaruniai 14 orang anak, 23 cucu dan 3 orang cicit. Putra pertamanya, Rozy Munir pernah menjabat sebagai Menteri Negara Penanaman Modal dan Pemberdayaan BUMN. Jenazah beliau dimakamkan pada tanggal 12 Januari 2002 siang di pemakaman keluarga di Mojosari, Mojokerto

Share:

kenapa sih tentara harus pakai loreng?


Jawabannya adalah untuk keperluan penyamaran, terutama untuk menghindari pantauan musuh. Baik saat bertahan maupun menyerang. Penyamaran ini tidak hanya digunakan untuk personel infantri, mulai dari pesawat, kendaraan hingga peralatan militer menggunakannya.

Dengan baju loreng, militer dapat melakukan kamuflase sebagai salah satu teknik survival, yang mengacu pada metode untuk membuat pasukan militer tidak dapat terdeteksi pasukan musuh. Penerapan warna dan bahan kostum perang dan peralatan militer digunakan untuk menyembunyikan mereka dari pengamatan visual.

Karena menyaru dengan suasana di sekitarnya, pasukan yang menggunakan seragam ini sekilas tidak akan terlihat, serta mengurangi kemungkinan menjadi sasaran tembak.

Menilik kembali ke era kuno, saat itu pasukan militer tidak menggunakan baju loreng. Mereka lebih memilih warna yang mencolok dan berani buat menakut-nakuti musuh, termasuk mengidentifikasi kawan dan lawan saat kabut datang. Baju loreng pertama digunakan awal 1800-an oleh beberapa unit militer untuk melindungi diri dari tembakan senjata.

Unit pasukan yang mengadopsi perta kali warna loreng adalah Resimen Senapan ke-95 dan Resimen Senapan ke-60. Pakaian itu dipakai saat Perang Napoleon untuk memperkuat garis pertempuran tentara Inggris. Saat membawa Rifles Baker (senjata dengan bayonet) dan memperluas area pertempuran, pasukan ini mengenakan jaket hijau, berbeda dengan resimen lain yang mengenakan jubah merah tua.

Namun hal ini sempat terlupakan pada perang dunia kedua. Pasukan Inggris malah menggunakan pakaian yang cukup mencolok, sebaliknya tentara Nazi Jerman sudah mengaplikasikan sebagian besar pasukannya mengenakan seragam loreng. Ternyata cara ini cukup ampuh mengurangi korban selama pertempuran.

Berbeda dengan banyak pasukan asing yang kebanyakan memakai warna cokelat di putih, TNI memilih warna hijau. Alasan utamanya adalah medan, negara kita dominan pepohonan berwarna hijau, tanah dan kayu yang berwarna coklat, sehingga TNI lebih memilih pola M81 Woodland, yang populer dari tahun 1981.

Kamuflase ini lebih ke arah pertahanan diri dari penglihatan visual, meski ada teknologi baru untuk mendeteksi keberadaan manusia mengunakan sinar inframerah dan lain sebagainya, namun juga sudah di temukan metode dan kamuflase yang berbeda pula.

Share:

BATALYON INVANTRI V / ANDJING NICA

Berawal dr sebuah Departemen Polisi Militer yg bertugas sebagai  pasukan pengaman guna melindungi warga belanda yg masih berada di kamp-kamp interniran sepeninggal Jepang.
Pada 2 Desember 1945,Batalion inf V resmi terbentuk,dg komandan Pertama Kapten Infantri J.C.Pasqua.

17 Agustus 1946,Panglima Angkatan Darat Belanda Jendral Simoon Spoor meresmikan Batalion V ,sebagai Batalion Inf.V Andjing Nica,dengan logo  bergambar... "kepala Anjing Galak yang sedang "Mengeram"...,logo ini secara umum terbuat dari Metal,bordir,juga ada yang disablon, pemakaian dipasang di lengan  baju  ,namun kadang ada juga yg memasangnya di topi mereka.

Mendapat Pendidikan militer di KMA Bandung, doktrin kebencian yg berlebihan ,juga akibat efect trauma selama masa bersiap,...plus pengalaman2 tempurnya,...menjadikan Batalyon ini mempunyai
Keefektifan daya Gempur yang mumpuni,kebringasan  hampir tanpa ampun , sehingga
menjadikan salah satu Batalyon tangguh andalan Belanda khususnya di berbagai Front jawa barat dan Jawa tengah.

Kerap menjadi ujung tombak di setiap operasi bersekala kecil maupun besar..namun pasukan ini pulalah yang sangat di benci oleh rakyat umumnya dan Pasukan Republik, khususnya di pulau Jawa.

Beranggotakan dari berbagai suku Bangsa ,seperti : Belanda,Ambon,Menado,Timor,Jawa dan Sunda serta eks tawanan perang. Umumnya sangat fanatik membela belanda dan anti republik,Pasukan Andjing Nica ini memiliki kesamaan kharacter dengan Marsose (Pasukan khusus jaman hindia belanda) ,saat bertempur sama2 ditanamkan rasa benci berlebih pada bakal musuhnya..dengan lagu mars mereka yg berjudul "Andjing Nica tidak Takoet Mati"... melengkapi sosok  kegarangannya.

Beberapa Prestasi paling menonjol Batalyon ini diantaranya :

- Menangkap Panglima Div Siliwangi Letkol Daan Yahya dan komandan Batalyon 4/XII Mayor Daeng Mohammad ,oleh suatu unit Patroli Batlyon dibawah Pimpinan Letnan Van Tienen, disekitar hutan Kaliwuluh Magelang, dalam suatu pertempuran sengit dan gelap  tgl 22 jam 12 malam ,saat itu Panglima Div dlm rangkaiannya Memulai misi LongMarch ke Jawa Barat.

- Sebagai Pasukan Pemukul utama Belanda dalam menghalau Pasukan Wehrkreis III Pimpinan Letkol Soeharto yg mengepung Djogjakarta (Serangan Umum 1 maret 1949) , Belanda mengerahkan Pasukan Knil "terkuat", BATLYON ANDJING NICA dan BATALYON GADJAH MERAH yang berkedudukan di Magelang.
Nb : ( Batlyon Inf.V. "Andjing Nica" di bawah  komandannya "Letnan kolonel Van Santen" tiba Di Magelang pada tgl 24 Desember 1948, bersama Batalyon 5 "Resimen Stootroepen" dan Batalyon 4.R.I.meminpin Kolone Tempur D yg bergerak secara bermotor mulai dari Gombong,Purwerejo/ Yogyakarta,terus sampai Magelang, kemudian menjadikan kota ini  sebagai markas sementara Batalyon)

Share:

LOGAS Saksi Bisu REL KERETA API MAUT


Logas, Dulu sering mendengar cerita orang tua tua dikampung akan nama Logeh, ternyata daerahnya Logas Provinsi Riau. Kisah pilu bagi mereka dulu zaman Jepang karena banyak kehilangan saudara yang dibawa kedaerah Logas ini.
Dulu, bagi mereka yang hidup pada era 1942-1945, mendengar nama Logas saja sudah membuat tegak bulu kuduknya..
Kekejaman dan berjuta kisah pilu penderitaan bangsa pribumi di bawah moncong bedil bangsa bermata sipit kala itu, terkubur dalam neraka bernama belantara Logas..

Kenapa tidak pilu, karena setiap yang dibawa ke Logeh(Logas) tidak satupun kembali pulang. Ternyata disana mereka dipekerjakan secara paksa oleh Jepang.

Tak banyak orang yang pernah mendengar namanya, bahkan letaknya kini nyaris tak terlukiskan lagi dalam peta. Namun inilah mugkin sekeping “neraka” yang jatuh ke bumi. Daerah yang dalam sejarahnya berlumuran darah dan kini menjadi salah satu daerah paling angker dan ditakuti di jantung pulau Sumatera.

Logas adalah nama sebuah daerah pertambangan emas yang hendak dibuka dan dijangkau oleh Jepang dimasa penjajahannya di Indonesia. Para pekerja paksa (romusha) yang didatangkan dari berbagai daerah di Sumatera, Jawa dan orang Belanda yang menjadi tawanan perang dipaksa untuk membuka jalan, menebang pohon, memotong bukit dan selanjutnya memasang rel kereta di tengah hutan perawan yang tak pernah terjamah oleh manusia, penuh duri dan belukar dan binatang buas yang selalu mengintai mereka.

Rencana pembangunan jalur kereta ke tambang emas ini sebenarnya pertama kali direncanakan oleh pemerintah kolonial Belanda. Namun setelah mereka takluk kepada Jepang, rencana detail pembangunan jalur kereta yang bermula dari Muaro – Logas – Muara Lembu – Lipat Kain – Taratak Buluh – Tangkerang dan berujung di Pekanbaru ini jatuh ke tangan Jepang.

Jepang yang melihat jalur yang strategis dan potensi tambang emas di Logas yang sangat bisa untuk menambah pundi-pundi uang untuk biaya perang ini segera merealisasikannya.

Ratusan ribu orang pekerja didatangkan tersebut pada awalnya dengan janji akan di beri gaji yang menggiurkan. Namun apa hendak dikata, ternyata mereka harus bekerja dibawah todongan bayonet tentara Jepang atau dibayangi peluru yang sewaktu-waktu dapat bersarang di dada.

Mereka diperlakukan sangat tidak manusiawi. Dengan makan sekali sehari dengan umbi-umbian yang tumbuh didalam hutan, mereka dipaksa bekerja tanpa henti. Tidak ada peralatan yang canggih, semuanya dikerjakan dengan tenaga manusia.. Menebang pohon, memotong tebing sampai memasang rel dan membuat jembatan semua dikerjakan secara manual dengan tangan dan keringat para Romusha.

Bahkan yang lebih kejam lagi, tak jarang para tawanan itu “tertimbun” atau lebih tepatnya ditimbun, karena reruntuhan tanah yang sengaja diledakkan dengan dinamit untuk membuka tanah, menggali terowongan atau memecah bukit batu tanpa peringatan terlebih dahulu. Selanjutnya rekan-rekan mereka yang lain kemudian akan menyingkirkan tanah dan batu hasil reruntuhan sekaligus mengumpulkan mayat-mayat rekan mereka yang tertimbun.

Selain itu, Asupan gizi yang sangat buruk, tidak adanya perawatan kesehatan, serangan binatang buas serta perlakuan diluar batas kemanusiaan, juga menjadi penyebab tingginya angka kematian.

Di jalur rel sepanjang hampir 220 km ini, diperkirakan lebih dari 80.000 orang romusha dan 700 orang tawanan perang berkebangsaan Belanda tewas dan berkubur di disini. Jumlah romusha yang mati ini adalah bagian terbesar dari total sekitar 100.000 orang romusha dan 5000 orang tawanan perang dipekerjakan di jalur rel ini.

Jadi bisa dibayangkan, apabila dihitung disepanjang 220 km rel kereta ini memakan korban 80.000 korban tewas, maka rata-rata korban tewas di setiap kilometer rel ini adalah sekitar 364 orang, atau dengan kata lain jika kita berjalan di rel kereta ini, maka setiap kita melangkah sejauh 3 meter saja, maka akan ada 1 mayat pekerja yang terkubur disana.

Bahkan Henk Hovinga, dalam bukunya yang berjudul “Eindstation Pekan Baru 1944-1945-Dodenspoorweg door het Oerwoud”  terbitan KITLV Leiden, secara detil mengungkap tentang tragedi ini dalam karangannya dengan kalimat “para Romusha dalam suatu neraka hijau, penuh ular, lintah darat dan harimau, lebih buruk lagi miliaran nyamuk malaria, di bawah pengawasan kejam orang-orang Jepang dan pembantu mereka orang Korea”.

Namun kenyataannya biaya mahal dan darah yang ditumpahkannya dalam pembangunan “Rel Kereta Maut” ini sangatlah tidak sebanding dengan manfaat yang dapat dihasilkannya. Jalur rel kereta ini juga tercatat sebagai jalur kereta yang paling singkat umur pemakaiannya.

Rel ini diresmikan pada 15 Agustus 1945, hanya 2 hari sebelum kemerdekaan Indonesia dan Jepang dinyatakan takluk kepada Sekutu. Sebuah rangkaian kereta yang mengangkut sisa-sisa romusha yang beruntung karena masih hidup, menjadi kereta yang pertama sekaligus menjadi yang terakhir yang melintasi “Jalur Berdarah” ini. Kereta  berjalan pelan meninggalkan lebatnya belantara hutan Sumatera, meninggalkan jasad-jasad rekan-rekan mereka yang terkubur di bawah lintasan kereta.

Jembatan-jembatan yang terbuat dari kayu dengan cepat lapuk dan hanyut oleh amukan sungai. Rel-rel yang tertinggal dengan cepat merimba dan sebagiannya lagi dibuat menjadi pagar oleh masyarakat dan jawatan Kereta Api sendiri untuk jalur Sawahlunto - Padang. 

Hingga kini hanya ada sisa puing-puing besi rel dan kereta yang teronggok kaku dan menjadi saksi bisu betapa kejamnya perbudakkan manusia yang terjadi puluhan tahun silam di luar nalar dan logika kemanusiaan.

Heningnya belantara hutan Sumatera dan angkernya nama Logas, menjadi satu-satunya monumen pengingat untuk mereka yang kini telah dilupakan.

Neraka di Logas, inilah mugkin sekeping “neraka” yang jatuh ke bumi. Rel kereta berdarah yang dibangun diatas ribuan mayat Romusha, kini menjadi salah satu daerah paling angker dan ditakuti dijantung Sumatera. Bahkan letaknya nyaris tak terlukiskan lagi dalam peta.
Share:

PENEMUAN TEROWONGAN PENINGGALAN BELANDA DI KLATEN


Sebuah terowongan peninggalan Belanda ditemukan di Klaten. Terowongan itu diduga merupakan terowongan De Suiker Fabriek Tjokro Toelong alias terowongan Pabrik Gula (PG) Tjokro Toeloeng di zaman Belanda

Terowongan ini berada sekitar 6,25 meter dari permukaan tanah dan terpendam di bawah permukiman warga. Panjanganya pun mencapai ratusan meter. Namun saat ini, warga baru membuka akses secara manual sepanjang 100 meter. Pangkal terowongan ini diduga berpusat di bekas PG Tjokro Toeloeng yang saat ini dibangun Pasar Cokro.

Penemuan terowongan ini kali pertama dilakukan Danang Heri Subiantoro bersama warga lainnya, Wawan, 25 November 2019 lalu. Sehabis Salat Subuh, Danang menyusuri pinggiran Kali Pusur guna mendekati mulut terowongan. Waktu itu, Danang hanya mengamati mulut terowongan dari luar.

Kondisi di mulut terowongan nyaris tertutup lumpur. Setelah itu, Danang bercerita ke tetangganya, Giyanto yang kemungkinan besar arah terowongan berada di bawah rumah mereka. Satu pekan berikutnya, Danang mengumpulkan warga di Cokro Kembang.

Dalam pertemuan itu dijelaskan, di bawah rumah warga terdapat terowongan yang berpotensi menjadi destinasi wisata baru di Cokro. Di waktu selanjutnya, tujuh warga Cokro Kembang memberanikan diri masuk ke terowongan. Mereka memasuki mulut terowongan dengan cara merangkak.

Waktu itu mulut terowongan masih dipenuhi lumpur yang diduga berasal dari Kali Pusur. Sepanjang 17 meter, warga masih berjalan merangkak. Saat masuk ke terowongan, warga mempersenjatai diri dengan senapan angin, parang, sepatu boot, lampu halogen, parang, oksigen, helm, pisau.

“Di dalam itu kondisinya pengap. Makanya kami membawa oksigen juga. Saat masuk, banyak sekali ditemukan kelelawar berwarna merah. Jumlahnya mencapai ribuan,” kata Danang Heri Subiantoro, saat ditemui wartawan di rumahnya, Kamis (16/1/2020).

Pada 1 Desember 2019, sebanyak 70 kepala keluarga (KK) gotong royong membuka akses terowongan yang dipenuhi lumpur tersebut. Gotong Royong ini akhirnya dikerjakan setiap pekan. “Jumlah lumpur yang kami keruk dari dalam terowongan itu mencapai 75 kubik," jelas Danang.

"Di pekan ketiga, kami juga bisa menyingkirkan blok cor yang lebarnya hampir selebar mulut terowongan. Di pekan itu pula, kami sudah mengundang tiga pawang ular guna memastikan di terowongan tidak ada ularnya [tidak ada kotoran ular, tidak ada lungsungan ular, dan tidak ada aroma ular di dalam terowongan],” imbuhnya.

Guna memudahkan menyusuri terowongan, Danang melubangi tanah di depan rumahnya. Lubang galian sedalam 6,25 meter itu tembus ke terowongan. Berbekal galian itu, warga bisa menyusuri terowongan tak harus melalui mulut terowongan yang ada di pinggir Kali Pusur. Saat ini di dalam terowongan terdapat tiga blower (masing-masing berkekuatan 1.500 watt) dan delapan lampu penerangan. Di dinding terowongan tersebut masih berair.

Salah satu tokoh pemuda di Cokro Kembang, Suryanto, 42, warga di Cokro Kembang tak mengira di bawah rumah beberapa warga terdapat terowongan peninggalan zaman Belanda. Sewaktu kecil, Suryanto sering bermain di dekat mulut terowongan.

“Dulu saya sering bermain di depan mulut terowongan itu. Tapi juga enggak tahu kalau di situ adalah mulut terowongan [nyaris tertutup lumpur]. Saat saya kecil, banyak yang bermain di sana. Kali di Pusur itu ya digunakan untuk mandi, ngguyang kerbau, dan aktivitas warga lainnya,” katanya.
Share:

Komunitas Cinta Pejuang Indonmesia (KCPI)

Tentang kami

Selamat datang di Komunitas Cinta Pejuang Indonesia (KCPI) Salam KCPI... Komunitas Cinta Pejuang Indonesia (KCPI) mulai ada sejak ta...

Profil KCPI

Profil Founder KCPI

PENDAFTARAN ANGGOTA

PENDAFTARAN ANGGOTA
Klik Gambar untuk melanjutkan

Video Profil KCPI

Postingan Populer