"Komunitas Penggiat Sejarah Perjuangan Bangsa dan Sahabat Para pejuang Indonesia"

" Selamat Datang di Website Komunitas Cinta Pejuang Indonesia (KCPI)"

Tampilkan postingan dengan label PAHLAWAN NASIONAL INDONESIA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PAHLAWAN NASIONAL INDONESIA. Tampilkan semua postingan

CUT MEUTIA (1870-1910)

Cut Meutia lahir di Perlak, Aceh pada tahun 1870. Ia adalah seorang panglima Aceh ketika melawan Belanda. Bersama suaminya Teuku Cik Tunong ia membentuk dan menyerang patroli patroli Belanda di pedalaman Aceh. 

Belanda membujuk Cut Meutia supaya menyerah. Bujukan itu tidak berhasil. Dalam bulan Mei 1905 Teuku Cik Tunong ditangkap Belanda dan rnenjalani hukuman tembak. Sesuai pesan suaminya Cik Tunong, Cut Meutia kawin lagi dengan Pang Nangru, Pang Nangru kawan akrab Cik Tunong,

setelah itu Cut Meutia melanjutkan perjuangan. Pada 26 September 1910 terjadilah pertempuran di Paya Ciciem yang menewaskan Pang Nangru. Cut Meutia dapat meloloskan diri. Ia diserahi untuk memimpin pasukan yang berkekuatan hanya 45 orang dengan 13 pucuk senjata. 

Dengan seorang anaknya bemama Raja Sabil yang berumur sebelas tahun Cut Meutia melanjutkan perjuangan. Cut Meutia terns berjuang dan suatu hari ia terkepung dan meninggal dunia pada tahun 1910. 
Share:

TEUKU UMAR (1854 - 1899)

Teuku Umar lahir pada tahun 1854 di Meulaboh. Teuku Umar adalah keturunan Minangkabau yang merantau ke Aceh pada akhir abad ke-1 7. la kemudian menikah dengan Cut Nyak Dien. 

Pada saat itu perang Aceh telah berlangsung, mula-mula ia berjuang menyelamatkan kampungnya, kemudian meluas sampai ke daerah Meulaboh. 

Kampung Darat yang menjadi markas besar Teuku Umar dapat diduduki Belanda tahun 1878. 

Teuku Umar pada tahun 1883 berdamai dengan Belanda, sebenarnya ini hanya siasat belaka, karena kemudian Teuku Umar membunuh 32 orang tentara Belanda dan berhasil merampas senjatanya.

Pada 29 Maret 1896, Teuku Umar berhasil membawa 800 pucuk senjata, 25.000 butir peluru, uang 18.000 dollar dan peralatan lainnya. Atas kejadian ini Belanda menjadi marah dan menggerakkan pasukannya dibawah panglima Van Heutz.

Pertempuran meletus 10 Februari 1899 malam dan Teuku Umar terkena tembakan, sehingga gugur sebagai kusuma bangsa. 
Share:

CUT NYAK DIEN (1848 - 1908)

Cut Nyak Dien lahir di Lampadang, Aceh Besar pada tahun 1848. Ayahnya bemama Teuku Nanta Setia Ulebalang VI Mukim, seorang Aceh keturunan Minangkabau. Cut Nyak Dien menikah dengan Teuku Ibrahim Lamnga, seorang pejuang Aceh.

Tahun 1873 meletus perang Aceh dan tahun 1875 Belanda berhasil menduduki daerah VI Mukim. Dalam pertempuran melawan Belanda, suami Cut Nyak Dien meninggal dunia tahun 1878.  Sejak itu Cut Nyak Dien meneruskan perjuangan dan bersumpah untuk membalas kematian suaminya.

Pada tahun 1880 ia menikah untuk yang kedua kalinya dengan kemenakan ayahnya, yaitu Teuku Umar, seorang pejuang Aceh pula. 

Berkat kegigihan Teuku Umar dapat merebut daerah VI Mukim dari tangan Belanda tahun 1884. Teuku Umar gugur 11 Februari 1899. Sejak itu Cut Nyak Dien terus bergerilya dalam usia 50 tahun.

Setelah enam tahun lamanya Cut Nyak Dien dan pasukannya bergerilya, mereka tertangkap Belanda. Kemudian dibuang ke Sumedang, Jawa Barat dan meninggal 6 November 1908. 
Share:

SISINGAMANGARAJA XII (1849-1907)

Patuan Bosar Ompu Pulo Batu yang dikenal dengan nama Sisingamangaraja XII Jahir di BakkaraTapanuli Utara tahun 1849. Selain raja ia pun menjadi kepala adat sekaligus pemimpin agama yang disebut Parmalim. 

Rakyat suku Batak mempunyai kenyakinan bahwa raja Sisingamangaraja memiliki kesaktian dan sangat berpengaruh. Seringnya Raja Sisingamangaraja melakukan perjalanan ke pelosok-pelosok menjadikan dirinya dikagumi. 

Selain sebagai pengayoman di tengah-tengah masyarakat Batak, ia dikenal juga sebagai pemimpin yang menentang kolonialisme. Sejak Belanda menduduki tanah Batak dan menempatkan kontrolir di Balige, Tarutung, Sipoholon dan tempat-tempat lain Sisingamangaraja sangat marah. 

Pada tahun 1878 ia melancarkan serangan terhadap pos-pos Belanda yang berada di Tarutung, Balige dan Bakkara dan pada tahun 1884 Sisingamangaraja melancarkan serangan ke daerah Tangga Batu. 

Dalam setiap serangan pasukan Sisingamangaraja XII selalu dapat meloloskan diri.

Pada 17 Juni 1907 Belanda mengetahui tempat persembunyian Sisingamangaraja XII, tempat itu dikepung. Terjadilah pertempuran sengit dan gugurlah Sisingamangaraja. 

Beliau meninggal setelah 30 tahun mengobarkan Perang Batak untuk mengusir Belanda. 

Share:

TEUNGKU CIK DI TIRO (1836-1891)

Muhammad Saman, yang kemudian dikenal dengan nama Teungku Cik Di Tiro, adalah pahlawan dari Aceh. Ia adalah putra dari Teungku Sjech Ubaidillah. Sedangkan ibunya bernama Siti Aisyah, putri Teungku Sjech Abdussalam Muda Tiro. 

Ia lahir pada tahun 1836, bertepatan dengan 1251 Hijriah di Dajah Krueng kenegerian Tjombok Lamlo, Tiro, daerah Piciie, Aceh. Ia dibesarkan dalam lingkungan agama yang ketat. 

Ketika ia menunaikan ibadah haji di Mekkah, ia memperdalam lagi ilmu agamanya. Selain itu tidak lupa ia menjumpai pimpinan-pimpinan Islam yang ada di sana, sehingga ia mulai tahu tentang perjuangan para pemimpin tersebut dalam berjuang melawan imperialisme dan kolonialisme. 

Sesuai dengan ajaran agama yang diyakininya, Teungku Cik Di Tiro sanggup berkorban apa saja baik harta benda, kedudukan, maupun nyawanya demi tegaknya agama dan bangsa. Keyakinanya ini dibuktikan dengan kehidupan nyata, yang kemudian lebih dikenal dengan Perang Sabi!. 

Dengan Perang Sabilnya, satu persatu benteng Belanda dapat direbut. Begitu pula wilayah-wilayah yang selama ini diduduki Belanda jatuh ke tangan pasukan Cik Di Tiro. 

Pada bulan Mei tahun 1881, pasukan Cik Di Tiro dapat merebut benteng Belanda Lambaro, Aneuk Galong dan lain-lain. Belanda merasa kewalahan akhirnya memakai "siasat liuk" dengan mengirim makanan yang sudah dibubuhi racun. Tanpa curiga sedikitpun Cik Di Tiro memakannya, akhirnya meninggal pada bulan Januari 1891 di benteng Aneuk Galong. 
Share:

SULTAN THAHA SYAIFUDDIN (1816-1904)

Sultan Thaha Syaifuddin dilahirkan di Keraton Tanah Pilih, Kampung Gedang, Iambi pada
pertengahan tahun 1816. Ketika kecil ia biasa dipanggil Raden Thaha Ningrat. Ayahnya Sultan
Muhamad Fakhruddin dikenal rakyat Jambi sebagai Sultan yang saleh dan besar jasanya terhadap pengembangan agama Islam di Jambi. 

Sejak kecil Raden Thaha Ningrat telah memperlihatkan tandatanda kecerdasan dan ketangkasan. Ia adalah seorang bangsawan yang rendah hati dan suka bergaul dengan rakyat biasa. Ia dididik oleh ayahnya dengan ajaran Islam yang ketat sehingga sejak kecil ia telah kelibatan sebagai seorang anak yang taat beribadah. Pelajaran tauhid meresap benar ke dalam jiwanya. Ia percaya bahwa Allah adalah Maha Kuasa, lebih berkuasa dari segala yang berkuasa di dunia ini. 

Pada pertempuran di Sungai Aro, Sultan Thaha Syaifuddin dengan panglima-panglimanya melarikan diri dan bersembunyi di beberapa tempat dari kejaran Belanda. Sejak terjadinya pertempuran di SungaiAro itu jejak Sultan Thaha tidak diketahui lagi oleh rakyat umum, kecuali oleh pembantunya yang sangat dekat. 

Cara ini mungkin disengaja agar Belanda menduga bahwa Sultan Thaha sudah meninggal dunia atau sebaliknya Belanda yang sengaja menyebarkan berita kematian Sultan Thaha yang sebenarnya masih hidup pada waktu itu.

Sultan Thaha Syaifuddin meninggal pada tanggal 26 April 1904 dan dimakamkan di Muara Tebo. 
Share:

PANGERAN ANTASARI (1809-1862)

Pangeran Antasari lahir tahun 1809. Ia adalah seorang keluarga Kesultanan Banjarmasin yang dibesarkan di luar lingkungan istana.

Rakyat yang resah akan perlakuan Belanda. menggugah P. Antasari untuk menggempur pasukan Belanda. Ia kemudian bergabung dengan kepala-kepala daerah Hulu Sungai, Marthapura, Barito, Pleihari, Kahayan, Kapuas, dan lain-lain. Mereka bersepakat mengusir Belanda dari Kesultanan Banjar. 

Maka 18 April 1859 meletuslah perang pertama yang lebih dikenal dengan Perang Banjar, dibawah pimpinan Pangeran Antasari. · Perang itu berlangsung sampai belas tahun. 

Pernah pihak Belanda mengajak berunding, tetapi P. Antasari tidak pernah mau. Daerah pertempurannya meliputi Kalimantan Selatan dan Kalirnantan Tengah. 

Pada tahun 1862 Pangeran Antasari merencanakan suatu serangan besar-besaran terhadap Belanda, tetapi secara mendadak, wabah cacar melanda daerah Kalimantan Selatan. P. Antasari terserang juga, sampai ia meninggal pada 11 Oktober 1862 di Bayan Begak, Kalimantan Selatan. Kemudian ia dirnakarnkan di Banjarmasin. 
Share:

SRI SUSUHUNAN PAKUBUWONO VI (1807-1848)

Raden Mas Sapardan atau Paku Buwono VI , dilahirkan di Surakarta pada 26April 1807. la putera ke 11 dari Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Paku Buwono V dari permaisurinya Raden Ayu Sosrokusumo. Paku Buwono VI menjadi raja tahun 1823. 

Sewaktu memerintah, pemerintah Belanda terlalu banyak ikut campur dalam urusan kerajaan. Pada tahun 1825-1830 Pangeran Diponegoro mengadakan pemberontakan. Dalam peperangan ini kerajaan Surakarta semula berpegang teguh pada pendiriannya sendiri yaitu bersikap sebagai daerah yang merdeka. Pendirian tersebut membuat Belanda menganggap Paku Buwono VI bersikap mendua sehingga membahayakan kedudukannya. Apalagi secara diam-diam Paku Buwono sering mengadakan pertemuan dan bantuan fisik kepada pasukan Diponegoro. Belanda menganggap dua bangsawan ini harus dipecah belah .

Akhirnya Belanda menyodorkan surat perjanjian kepada Paku Buwono VI yang isinya pengurangan kekuasaan raja. Dilandasi sikap anti Belanda maka suatu saat Paku Buwono meninggalkan istana selama beberapa hari ke Imogiri dan dilanjutkan ke daerah lain. Tindakan
ini oleh Belanda dianggap makar. 

Akhirnya ia ditangkap di Mantingan dan dibawa ke Surakarta. selanjutnya dibawa ke Semarang. Dari Semarang Paku Buwono diasingkan ke Ambon. Paku Buwono VI meninggal di Ambon tahun 1649, kemudian tahun 1956 makamnya dipindahkan ke Imogiri. 
Share:

MARTHA KHRISTINA TIAHAHU (± 1800-1818)

Martha Khristina Tiahahu lahir kurang lebih tahun 1800 di Nusa Laut Kepulauan Maluku. Ia anak sulung Kapitan Paulus Tiahahu. Umurnya masih 17 tahun ketika mengikuti ayahnya Kapitan Paulus Tiahahu memberontak melawan kekuasaan Belanda. 

Gadis belia ini selalu menyandang bedil mendampingi ayahnya berjuang di Nusa Laut. Dengan suatu tipu muslihat Belanda berhasil memasuki benteng Beverdijk pada lO November 1817. Mereka menangkap beberapa orang/tentara termasuk Kapitan Paulus Tiahahu dan dijatuhi hukurnan mati pada 17 November 1817. 

Setelah ayahnya meninggal, Martha Khristina Tiahahu meneruskan perjuangan dan masuk dalarn hutan. Ia berusaha mengumpulkan pasukan dan menyusun kekuatan baru.

Usaha terse but berhasil diketahui Belanda sehingga Martha Khristina ditangkap bersarna 39 orang lainnya. Ia diangkut ke Pulau Jawa sebagai pekerja paksa di perkebunan kopi. 

Dalarn perjalanan ke Pulau Jawa, diatas kapal Martha Khristina Tiahahu tidak mau bicara, makan, maupun minum. Sejak saat itu kondisinya semakin lemah dan 2 Januari 1818 ia menghembuskan nafasnya yang terakhir. Jenazahnya terkubur dalam pelukan ombak laut P. Nuru dan P. Tiga. 
Share:

PANGERAN DIPONEGORO (1785-1855)

Pangeran Diponegoro, nama kecilnya Raden Mas Ontowiryo lahir pada 11 November 1785 di Yogyakarta.

Ia adalah putera Sultan Hamengkubuwono Ill. Pangeran tidak menyetujui campur tangan Belanda dalam urusan kerajaan. Ia kemudian bertekad melawan Belanda. Kediaman Pangeran di Tegalrejo diserang Belanda pada 20 Juli 1825. 

Pangeran Diponegoro kemudian pindah ke Selarong, sebuah daerah berbukit-bukit yang dijadikan markas besarnya. Perjuangan Diponegoro mendapat dukungan dari kalangan bangsawan, ulama maupun petani. 

Ulama besar Kyai Mojo dan Sentot Alibasah Prawirodirdjo pun menggabungkan diri pada barisan Pangeran Diponegoro dengan menjanjikan uang sebesar 20.000 ringgit Belanda mencoba menangkap Pangeran Diponegoro. 

Usaha Belanda ini gagal, Belanda kemudian menjalankan siasat licik dengan pura-pura mengajak berunding di Magelang tahun 1830. Dalam perundingan tersebut Pangeran Diponegoro ditangkap dan dibuang ke Manado selanjutnya dipindah ke Ujung Pandang dan meninggal disana tanggal 8 Januari 1855. 
Share:

TUANKU IMAM BONJOL (1772 - 1864)

Peto Syarif yang lebih dikenal dengan Tuanku Imam Bonjol, lahirpada tahun 1772 di Kampung Tanjung Bunga, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat. Ia juga pendiri negeri Bonjol, sebuah desa kecil yang diperkuat dengan benteng dari tanah liat.

Pertentangan kaum adat dengan kaum paderi ( kaum agama) melibatkan Imam Bonjol dalam perlawanan melawan Belanda.

Belanda memihak kaum adat, sedang kaum paderi dibawah pimpinan Imam Bonjol. Tahun 1824, Belanda mencoba berdamai dengan kaum paderi dengan "perjanjian masang" tetapi dilanggar oleh Belanda sendiri. Belanda menyerang Sumatera Barat dan dapat menguasai Bonjol pada tahun 1832, tiga bulan kemudian Bonjol dapat direbut kembali.

Setelah berulangkali mencoba selama 3 tahun Bonjol dapat diserbu Belanda tanggal 16 Agustus 183 7 . Imam Bonjol terjebak oleh penghianatan Belanda, dia ditangkap dan diasingkan ke Cianjur, kemudian ke Ambon, dan terakhir Manado hingga wafat tanggal 6 November 1864 dalam usia 92 tahun. 
Share:

KAPITAN PATTIMURA (1783 -1817)

Thomas Matulessy yang lebih dikenal dengan nama Kapitan Pattimura, lahir di Ambon tahun 1783.

Tahun 1816 Belanda berkuasa di Maluku, sejak itu rakyat Maluku mengalami penindasan. Kekayaan Maluku dikuras dan rakyatnya dipaksa bekerja rodi. Oleh sebab itu rakyat Maluku bangkit mengadakan perlawanan, dibawah pimpinan Pattimura.

Perlawanan pertama terjadi tanggal 14 Mei 1817, banyak tentara Belanda terbunuh. Gubernur Belanda di Ambon (Mayor Beetj es) memerintahkan merebut kembali benteng tersebut, dan karena mendapat bantuan dari luar maka benteng Duurstede berhasil direbut dari pasukan Pattimura. Di Palu, barisan Pattimura juga berhasil merebut benteng Hoorn, akibatnya Belanda kembali menyerang dan berhasil menangkap Pattimura sewaktu di Siri Sori, kemudian dibawa ke Ambon. Belanda menawarkan kerjasama pada Pattimura, tetapi ditolaknya, sehingga Pattimura dijatuhi hukuman mati di tiang gantung pada tanggal 16 Desember 1817. 
Share:

NYI AGENG SERANG (1752 - 1828)

Nyi Ageng Serang atau Raden Ajeng Kustiah Retno Edi lahir tahun 1752 di Desa Serang, ± 40 km sebelah utara Solo. 

Ayahnya adalah Bupati Serang yang kemudian diangkat menjadi Panglima Perang oleh Sultan Hamengkubuwono I. Setelah Perjanjian Gianti tahun 1755, Belanda justru menyerang Desa Serang.

Pada saat itu Kustiah/Nyi Ageng Serang telah dewasa dan ikut berperang menghadapi Belanda. Ia tertangkap dan dibawa ke Yogyakarta tetapi dikembalikan lagi ke Serang.

Nyi Ageng Serang kemudian bergabung dengan pasukan Diponegoro (1825-18130). Pasukan Serang yang tangguh pernah ditugaskan Diponegoro untuk mempertahankan daerah Prambanan.

Ketika itu Nyi Ageng Serang sudah tua, sehingga terpaksa dibawa dengan tandu. Dalam berperang Nyi Ageng Serang menggunakan teknik "daun lumbu" atau daun keladi hijau. Pasukannya berkerudung daun lumbu, sehingga dari kejauhan tampak seperti tanaman keladi, namun bila musuh mendekat diserang habis-habisan.

Nyi Ageng Serang meninggal dalam usia 76 tahun pada tahun 1828 dimakamkan di Desa Beku, Kulon Progo, Yogyakarta. 
Share:

SULTAN HASANUDDIN (1631 - 1670)

Sultan Hasanuddin lahir pada tahun 1631 di Ujung Pandang. Ia putera kedua Sultan Malikusaid, Raja Gowa ke-15.

Sultan Hasanuddin memerintah Kerajaan Gowa, ketika Belanda sedang berusaha menguasai perdagangan rempah-rempah. Gowa merupakan kerajaan besar di wilayah Timur Indonesia yang menguasai lalu Untas perdagangan.

Pada tahun 1666 dibawah pimpinan Cornelis Speelman Belanda berusaha menundukkan kerajaankerajaan kecil, tapi belum berhasil menundukkan Gowa.

Pertempuran terus berlangsung, sehingga Gowa semakin lemah dan tanggal 18 November 1667 bersedia mengadakan perdamaian Bongaya. Gowa merasa dirugikan karena itu Sultan Hasanuddin mengadakan perlawanan lagi. Akhirnya pihak Belanda (dibawah pimpinan Speelman) minta bantuan tentara ke Batavia. Akibatnya Belanda berhasil menerobos benteng terkuat Gowa yaitu Samba Opu tanggal 12 Juni 1669.

Sultan Hasanuddin kemudian mengundurkan diri dan wafat tanggal 12 Juni 1670.
Share:

SULTAN AGUNG (1591 - 1645)

Sultan Agung Anyokrokusumo lahir tahun 159l di Yogyakarta. Ia adalah cucu dari Sutawijaya atau yang lebih dikenal dengan Panembahan Senopati, pendiri Kerajaan Mataram.

Sejak tahun 1613 Sultan Agung berkuasa di kerajaan Mataram dengan keagungan dan kebijaksanaannya ia berusaha mempersatukan seluruh Jawa. Wawasannya tidak terbatas pada bidang politik dan ekonomi tetapi juga pada bidang kebudayaan yang luas dan menjangkau jauh ke depan.

Sultan Agung merupakan putra Indonesia pertama yang menyerang Belanda secara teratur dan besarbesaran. Ketika itu kompeni Belanda telah menguasai beberapa daerah di Indonesia, antara lain Batavia. Hak monopoli dagang yang dituntut Belanda sangat bertentangan dengan pendirian Sultan Agung, apalagi setelah Belanda mengadakan perampokan di Bandar Jepara.

Pertentangan ini semakin meruncing, sehingga peperangan tak dapat dihindarkan lagi. Dua kali serangan dilakukan oleh pasukan Mataram ke Batavia. Setelah serangan pertama tahun 1628 mengalami kegagalan, maka Sultan Agung menyiapkan serangan keduanya, Persiapan dilakukan dengan teliti dan seksama dan serangan kedua dimulai pada 22 Agustus 1629 dan sasarannya benteng-benteng Belanda antara lain Pare/,Holland, Robijn, dan Safier dan Diamant. Namun serangan kedua inipun gagal.

Sultan Agung wafat 1645. Ia adalah seorang yang anti penjajah dan penganut agama Islam yang taat. 
Share:

Haji Agus Salim - pejuang kemerdekaan Indonesia

Haji Agus Salim (lahir dengan nama Mashudul Haq (berarti "pembela kebenaran"); lahir di Koto Gadang, Agam, Sumatera Barat, Hindia Belanda, 8 Oktober 1884 – meninggal di Jakarta, Indonesia, 4 November 1954 pada umur 70 tahun) adalah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia.

Agus Salim lahir dari pasangan Soetan Salim gelar Soetan Mohamad Salim dan Siti Zainab. Jabatan terakhir ayahnya adalah Jaksa Kepala di Pengadilan Tinggi Riau.

Pendidikan dasar ditempuh di Europeesche Lagere School (ELS), sekolah khusus anak-anak Eropa, kemudian dilanjutkan ke Hoogere Burgerschool (HBS) di Batavia. Ketika lulus, ia berhasil menjadi lulusan terbaik di HBS se-Hindia Belanda.

Setelah lulus, Salim bekerja sebagai penerjemah dan pembantu notaris pada sebuah kongsi pertambangan di Indragiri. Pada tahun 1906, Salim berangkat ke Jeddah, Arab Saudi untuk bekerja di Konsulat Belanda di sana. Pada periode inilah Salim berguru pada Syeh Ahmad Khatib, yang masih merupakan pamannya.

Salim kemudian terjun ke dunia jurnalistik sejak tahun 1915 di Harian Neratja sebagai Redaktur II. Setelah itu diangkat menjadi Ketua Redaksi. Menikah dengan Zaenatun Nahar dan dikaruniai 8 orang anak. Kegiatannya dalam bidang jurnalistik terus berlangsung hingga akhirnya menjadi Pemimpin Harian Hindia Baroe di Jakarta. Kemudian mendirikan Suratkabar Fadjar Asia. Dan selanjutnya sebagai Redaktur Harian Moestika di Yogyakarta dan membuka kantor Advies en Informatie Bureau Penerangan Oemoem (AIPO). Bersamaan dengan itu Agus Salim terjun dalam dunia politik sebagai pemimpin Sarekat Islam.

Karya tulis
  • Riwayat Kedatangan Islam di Indonesia
  • Dari Hal Ilmu Quran
  • Muhammad voor en na de Hijrah
  • Gods Laatste Boodschap
  • Jejak Langkah Haji Agus Salim (Kumpulan karya Agus Salim yang dikompilasi koleganya, Oktober 1954)
Karya terjemahan
  • Menjinakkan Perempuan Garang (dari The Taming of the Shrew karya Shakespeare)
  • Cerita Mowgli Anak Didikan Rimba (dari The Jungle Book karya Rudyard Kipling)
  • Sejarah Dunia (karya E. Molt)
Karier politik

Pada tahun 1915, Salim bergabung dengan Sarekat Islam (SI), dan menjadi pemimpin kedua di SI setelah H.O.S. Tjokroaminoto.

Peran Agus Salim pada masa perjuangan kemerdekaan RI antara lain:
  • anggota Volksraad (1921-1924)
  • anggota panitia 9 BPUPKI yang mempersiapkan UUD 1945
  • Menteri Muda Luar Negeri Kabinet Sjahrir II 1946 dan Kabinet III 1947
  • pembukaan hubungan diplomatik Indonesia dengan negara-negara Arab, terutama Mesir pada tahun 1947
  • Menteri Luar Negeri Kabinet Amir Sjarifuddin 1947
  • Menteri Luar Negeri Kabinet Hatta 1948-1949
Di antara tahun 1946-1950 ia laksana bintang cemerlang dalam pergolakan politik Indonesia, sehingga kerap kali digelari "Orang Tua Besar" (The Grand Old Man). Ia pun pernah menjabat Menteri Luar Negeri RI pada kabinet Presidentil dan di tahun 1950 sampai akhir hayatnya dipercaya sebagai Penasehat Menteri Luar Negeri.

Pada tahun 1952, ia menjabat Ketua di Dewan Kehormatan PWI. Biarpun penanya tajam dan kritikannya pedas namun Haji Agus Salim dikenal masih menghormati batas-batas dan menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik.

Setelah mengundurkan diri dari dunia politik, pada tahun 1953 ia mengarang buku dengan judul Bagaimana Takdir, Tawakal dan Tauchid harus dipahamkan? yang lalu diperbaiki menjadi Keterangan Filsafat Tentang Tauchid, Takdir dan Tawakal.

Ia meninggal dunia pada 4 November 1954 di RSU Jakarta dan dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta. Namanya kini diabadikan untuk stadion sepak bola di Padang.
Share:

Komunitas Cinta Pejuang Indonmesia (KCPI)

Tentang kami

Selamat datang di Komunitas Cinta Pejuang Indonesia (KCPI) Salam KCPI... Komunitas Cinta Pejuang Indonesia (KCPI) mulai ada sejak ta...

Profil KCPI

Profil Founder KCPI

PENDAFTARAN ANGGOTA

PENDAFTARAN ANGGOTA
Klik Gambar untuk melanjutkan

Video Profil KCPI

Postingan Populer